Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Bapak dan Ibunya Diledakkan! (09)

Anak Langit Di Negeri Pelangi - aldnp #09

K
eesokan harinya, ia pergi ke kantor seperti biasa. Dalam hati ia berpikir tentu bukan sekarang waktunya mereka mencelakakan dirinya.
“Mereka kan harus menyusun rencana, dan tentunya perlu waktu. Tidak secepat ini,” begitu hiburnya dalam hati.
Sesampai di kantor, ia segera memarkir motor kesayangannya di tempat yang teduh seperti biasanya. Namun kini tempat itu telah dipakai untuk material bahan bangunan.
“Sejak kapan benda-benda itu ada disini? Kemarin sore saat pulang barang-barang itu belum ada. Memangnya ada rencana membangun apa?” ia membatin.
Satpam yang bertugas jaga datang menghampirinya dan memintanya memarkir motornya di tempat yang terbuka. Ketika ditanya, Satpam itu mengatakan bahwa material bangunan itu akan dipakai untuk membangun tempat parkir motor yang lebih baik. Ia pun mengangguk seakan mengerti. Diparkirnya motor itu di tempat yang ditunjukkan oleh petugas tadi.  Ia lalu mengeluarkan plastik pelindung motornya dari panas atau hujan dan menutupinya dengan rapi.
“Maafkan saya, hari ini Bapak dan Ibu agak kepanasan disini karena tempat teduh itu sudah diisi benda lain,” ia berbisik kepada motor kesayangannya itu, lalu bergegas menuju gedung kantornya.
Belum lama ia bekerja, terngiang lagi pertanyaan di kepalanya kapan material bangunan itu datang. Ia mencoba untuk menepisnya setiap kali akan memusatkan pikirannya pada pekerjaannya,  tetapi usahanya gagal. Setiap kali pula pertanyaan itu mengusiknya.
“Masak, datangnya malam-malam? Bukankah toko material buka hanya sampai jam 5 sore?” protesnya.
“Hey, ngelamunin Nina ya?” goda Jira yang baru datang.
“Eh, Jira. Kamu parkir dimana motormu?”
“Ya, tempat yang biasa. Cuma agak ke sebelah ujung. Kan ada material bangunan disana.  Memangnya kenapa?’
“Kamu nggak merasa aneh?”
“Aneh? Kenapa aneh?”
“Kemarin sore kan belum ada. Kapan datangnya tuh barang?”
“Ya, pasti antara kemarin sore sampai tadi pagi saat kamu datang! Gitu aja kok pusing.”
“Itulah anehnya, Jira! Mana ada toko bangunan buka sampai malam hari. Paling jam lima sore sudah tutup.”
Memang pada waktu itu belum ada toko bangunan atau depot khusus bahan bangunan yang buka hingga malam hari.
“Ah bisa saja truk pengangkutnya mogok di tengah jalan saat mengantar dan baru bener setelah diperbaiki hingga malam.” kata Jira polos.
“Tetapi, paman Hudi…”
Andragi masih akan melanjutkan kata-katanya ketika Jira tersadar dari kepolosannya itu, dan memotong.
“Benar juga kamu! Maafkan otakku yang lambat ini.” tukasnya.
“Jangan-jangan…..”
Sebelum sempat ia meneruskan kata-kata itu, tiba-tiba terdengar ledakan keras dari luar gedung tempat mereka bekerja.
Keduanya saling berpandangan sebelum mereka menyadari kegaduhan yang timbul karena para pegawai berlarian keluar sambail berteriak panik. Serentak semua orang berlari menuju tangga darurat. Beberapa wanita tampak terjatuh dan histeris. Mereka bereaksi tidak karuan. Namun tidak terjadi apa-apa lagi setelah itu. Seorang pegawai yang berpembawaan lebih tenang dan tidak ikut berlari pelan-pelan menuju jendela kaca dan memandang keluar.
“Ada ledakan di tempat parkir!” teriaknya.
“Apa??! Ayo kita lihat!” terdengar sahutan dari seseorang.
Mereka, para pegawai yang tadi menghentikan larinya setelah tidak terjadi apa-apa, kini kembali meneruskan larinya itu, tetapi tidak sepanik sebelumnya.
Di tempat parkir motor, telah banyak orang berkerumun melihat akibat ledakan itu. Terdengar suara mengerendeng dari mulut mereka seperti dengung lebah.
“Motor siapa ya yang hancur itu?”
“Kok bisa meledak ya?”
Andragi dan Jira bergegas menuju kesana. Hati mereka tidak enak. Jangan-jangan motor mereka yang celaka. Terutama Andragi. Ia hampir yakin motor kesayangannyalah yang menjadi korban. Mereka segera menyeruak diantara kerumunan itu, tanpa peduli terhadap omelan orang yang terdorong ataupun tersikut oleh mereka.
“Hey, lihat-lihat dong! Emangnya lu aja yang pengin lihat?” omel seorang wanita yang hampir jatuh terdorong.
Hati Andragi tercekat begitu kepalanya berhasil melongok ke bangkai motor yang hampir tidak berujud lagi itu. Ia tahu benar itu motornya. Di tempat itulah ia tadi memarkirnya. Kepalanya sontak berkunang-kunang dan lututnya menjadi lemas. Ia mencoba melangkah maju mendekati bangkai motor itu sambil menyeret kakinya dengan berat dan akhirnya terjongkok lemas disamping rongsokan motor kesayangannya itu.
“Maafkan saya Bapak dan Ibu,” katanya lirih.
Air mata mengambang di pelupuk matanya dan perlahan menetes.
“Saya tidak bisa menjaga Bapak dan Ibu dengan baik. Ampunilah saya Bapak, Ibu….,” keluhnya memelas.
Hatinya benar-benar hancur, sehancur motornya. Terbayang Bapak dan Ibunya membanting tulang bertahun-tahun menahan penderitaan agar bisa menyisihkan sedikit uang untuk ditabung demi membelikan dia motor sebagai satu-satunya benda berharga yang mereka berikan selama hidup mereka. Terbayang juga olehnya Bapak dan Ibunya seakan telah terlepaskan bebannya dan rela meninggalkan dunia setelah berhasil membelikan motor itu sebagai modalnya bekerja. Terbayang juga betapa motornya itu telah menjelma menjadi menjadi Bapak dan Ibunya sendiri manakala ia ingin bercakap-cakap dengan mereka, meminta nasihat atau menumpahkan keluh kesahnya. Kini mereka telah pergi untuk selama-lamanya. Tak aka ada lagi hari-hari yang sama seperti dulu. Hatinya remuk redam, hancur berkeping-keping.
Tanpa disadarinya sebuah tangan halus memeluk bahunya. Terdengar suara lembut Nina menyapu lamunan pahitnya itu.
“Mas, ayo kita ke tepi dulu. Kita cari tempat yang tenang untuk untuk memikirkannya. Biarlah para polisi itu bekerja mencari tahu pelakunya.”
Benar yang dikatakan Nina. Para polisi sedang memasang garis polisi disekitarnya. Seorang dari mereka mendekatinya, dan memintanya meninggalkan tempat itu.
“Silakan  keluar dulu dari sini, biar kami bisa bekerja.” kata polisi itu kepada Andragi dan Nina
Andragi mencoba mengangkat tubuhnya tetapi lututnya terasa demikian lemas. Nina memberi isyarat kepada Jira yang segera membantu mengangkatnya berdiri. Berdua mereka memapahnya menjauh dari tempat itu. Sesampai di teras kantor,  mereka mendudukkannya di kursi satpam yang ada disana, memberinya kesempatan mengambil napas. Nina segera berlari mengambilkan air putih dari kantin.
Beberapa menit kemudian dua orang polisi menghampiri mereka.
“Apakah saudara pemilik motor itu?” tanya seorang dari polisi itu.
Andragi mengangguk.
“Bisa kami lihat STNK-nya?”
Andragi mengeluarkan STNK dari dompetnya dan lalu menyerahkannya.
“Tolong ceritakan kejadian sebelum terjadinya ledakan dan dimana anda berada saat terjadi ledakan itu,” tanya polisi itu lagi sambil mengeluarkan catatannya.
“Biar saya yang menjawabnya, karena teman saya ini masih terguncang. Bapak bisa mengeceknya nanti pada orang lain atau Satpam yang menjaga tempat parkir itu.” kata Jira mengambil alih.
Ia lalu menceritakan sejak Andragi memarkir motornya ditempat itu karena tempat yang biasanya telah terisi material bangunan, hingga saat mereka sedang berbicara ketika ledakan terjadi. Tentu saja ia tidak menceritakan kekhawatiran mereka atas kejanggalan hadirnya material bangunan di tempat parkir itu. Beberapa pegawai yang berkerumun disekitar itu juga memperkuat keterangan Jira.
 Banyak lagi pertanyaan yang diajukan kedua polisi itu seperti adakah ia mempunyai musuh, dimana ia mengisi bensin terakhir, adakah bahan berbahaya yang ditinggal di motornya dan sebagainya. Kecuali soal mengisi bensin, semuanya di jawab oleh Andragi dengan kata “Tidak”.
Setelah itu, Jira segera meminta ijin atasannya untuk mengantar Andragi pulang. Nina pun melakukan hal yang sama. Berdua mereka menemaninya hingga sore hari saat Nina pamit pulang. Jira terus menemaninya hingga gelap, kemudian mengambil inisiatif.
“Sebaiknya kamu menyingkir dulu dari rumah ini. Siapa tahu aksi mereka akan dilakukan malam ini. Aku akan menyembunyikan kamu di tempat paman Hudi. Paling tidak untuk sementara waktu.” usul Jira.
Andragi hanya bisa mengangguk.
Di rumahnya, di sebuah gang yang sempit, paman Hudi sudah menanti mereka. Jira memang sudah menelpon sebelumnya. Dengan wajah prihatin ia menyambut kedua anak muda itu.
“Kamu harus tegar, nak. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Karena hal yang lebih buruk bisa terjadi.” sambutnya.
“Rupanya mereka tidak menunggu lama-lama, paman,” kata Jira membuka pembicaraan.
 “Sesore ini paman telah mencari beritanya di berbagai radio dan tv. Tapi tak ada satupun yang menyiarkannya. Itu sudah menunjukkan kalau mereka pelakunya. Mereka telah melarang mas media untuk meliputnya. Jangan heran bila besok pagi tak satupun koran yang akan memuat beritanya.”
“Lantas, apa yang harus saya lakukan paman?” tanya Andragi.
Ia mecoba sekuat tenaga menekan rasa sedihnya.
“Sebentar….” kata paman Hudi sambil berpikir. 
Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk keningnya tanda ia sedang berpikir keras.
“Rasanya ada yang janggal,” katanya kemudian. “Biasanya mereka langsung menghabisi korbannya secara langsung atau terselubung. Masih ingat kan nasibnya mas Tarno dan mas Radi?” tanyanya.
Kedua anak muda itu mengangguk.
“Mungkin itu peringatan, paman?” kata Jira
“Mungkin saja, tapi untuk apa?” orang tua itu bertanya-tanya.
“Barangkali supaya Andragi tidak macam-macam,” jawab Jira menduga-duga.
“Kalau memang begitu, berarti nyawa kamu tidak terancam,” simpul paman Huda.
“Tetapi mesti ada langkah yang memastikan mereka bahwa kamu tidak macam-macam lagi! Apa ya kira-kira?” tanya paman Hudi lebih kepada dirinya sendiri.
Telunjuknya yang telah keriput itu kembali mengetuk-ngetuk keningnya. Mereka bertiga diam. Masing-masing mencoba memikirkan langkah itu.
“Bagaimana kalau Andragi memberi pernyataan saja kepada pak Duma, dia tidak akan macam-macam lagi.” usul Jira.
“Itu juga terpikirkan oleh saya,” jawab paman Hudi. “Mungkin itu jalan terbaik yang bisa kita pikirkan sekarang. Sebaiknya kita makan dulu dan beristirahat. Andragi tentu sangat membutuhkannya sekarang.”
Mereka bertiga makan malam dan setelah itu pergi tidur.



(Bersambung)

Read this doc on Scribd: Bapak dan Ibunya Diledakkan (ALDNP#9)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60