Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Begini Rasanya Mati...!? (03)

Anak Langit Di Negeri Pelangi - aldnp #3

“Atur posisi mayat dan motor itu seperti orang jatuh ke jurang yang dalam! Jangan lupa ambil fotonya!” perintah sersan itu.
Para prajurit segera melaksanakan perintah itu. Seorang diantaranya kemudian menyiapkan kamera langsung jadi dan memotret tubuh dan motor yang telah dibuat ringsek, dari berbagai posisi. Setelah mendapatkan gambar yang meyakinkan, diperlihatkannya kepada sersan itu.
“Bagus! Sekarang bawa mayat itu ke Rumah Sakit ‘kita’ dan serahkan ke dokter D. Dan selain itu serahkan foto ini ke wartawan W. Dia wartawan ‘kita’. Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. Kasih data-data yang diperlukan!” perintahnya.
“Siap, pak! Kerjakan!”
Di ruang otopsi Rumah Sakit ‘kita’, dokter D segera membuat laporan hasil otopsi atas mayat “pemuda” itu. Umur, golongan darah, dan ciri-ciri tubuh sama dengan yang dimiki pemuda itu. Pada kolom sebab kematian ditulisnya dengan patah leher akibat terjatuh dari ketinggian dan membentur benda keras. Ditandatanganinya berkas itu dan disimpan dalam arsip khusus yang terpisah dari arsip mayat biasa.
Di tempat lain wartawan W, sambil menggeleng kepalanya mengamati foto yang diperolehnya. Ia harus segera menulis berita yang diperlukan untuk korannya, sebelum dead line jam 10.00 malam.
“Moga-moga orang yang malang ini bukan salah satu dari famili saya,” harapnya saat mengakhiri tulisan pesanan itu.
Keesokan harinya telah termuat berita dari sebuah koran ‘kuning’ yang banyak memuat berita kriminal dan gossip murahan:
“Seorang pemuda sekitar 25 tahun kedapatan tewas terjatuh ke jurang sedalam 20-an meter bersama motornya, disekitar hutan Asem Growong yang dikenal angker oleh penduduk setempat. Pemuda malang itu tampaknya sedang ngebut saat menikung di belokan yang tajam di samping jurang itu. Tampaknya ia meninggal akibat lehernya patah, sedangkan motornya ringsek di beberapa bagian”.
Berita itu terselip diantara beberapa peristiwa kecelakaan biasa, disertai dengan foto yang ketajamannya sengaja diturunkan, sehingga detilnya agak tersamar.
 Sementara itu …..
  Dalam jatuhnya, pemuda itu telah pingsan. Tubuhnya melayang bagai batu meluncur deras menembus udara yang ternyata…semakin ke dalam semakin berat dan padat. Tertahan oleh padatnya udara itu, tubuh pemuda itu melayang turun dengan lembut hingga  menyentuh dasar lubang. Ia masih pingsan untuk beberapa waktu.
Saat ia siuman, pelan-pelan ia membuka matanya. Namun semuanya gelap gulita. Ia lalu mengucak-ucak kedua matanya, mencoba melihat dengan lebih jernih, tetapi sia-sia. Semuanya tetap gelap. Tak ada tang dapat dilihatnya, meski samar sekalipun.
“Dimanakah aku? Butakah aku? Mungkin aku sudah mati. Begini rupanya keadaan setelah mati. Tapi kenapa aku mati?”
Tangannya lalu meraba kesana kemari dan menemukan ranselnya masih melekat di punggungnya. Pelan-pelan kesadarannya mulai terkumpul kembali.
“Kenapa aku bisa sampai di tempat ini”, pikirnya.
Ia mulai ingat hal terakhir sebelum ia pingsan, saat ia terperosok lalu jatuh ke dalam lubang. Sebelum jatuh ke lubang ia berlari mencari tempat berteduh. Tetapi apakah gerangan yamg membuat suasana begitu anehnya sebelum badai menerjang.
“Sedang apakah aku saat itu?” pikirnya.
Semuanya masih belum jelas benar dalam ingatannya. Otaknya masih terasa berat untuk bekerja kembali.
Ia lalu membetulkan letak tubuhnya yang masih terbaring agar lebih nyaman, lalu meletakkan kedua tangannya di belakang kepala sebagai pengganjal, sambil terus berupaya mengingat segala sesuatu yang menimpanya. Berangsur ingatannya mulai tertata.
Tadi pagi, selepas bangun ia didatangi kekasihnya dan memintanya segera pergi melarikan diri. Pagi itu sebenarnya udara sungguh terasa segar. Langit yang cerah menyapa dunia dengan senyumnya melalui mentari yang bersinar hangat. Warna kuning keemasan menghiasi bukit di ufuk barat memantulkan panorama indah yang menghampari sawah dan ladang di latar depan. Burung-burung pun tak malu beryanyi, bersahutan menyampaikan salam mereka kepada penghuni bumi. Namun, suasana itu tidak kuasa menolong kegundahan dan kepedihan hatinya. Di halaman depan rumahnya yang mungil itu, sesekali ia merapikan ikatan  ransel yang diletakkan di bagian belakang motornya. Andaikata ada orang yang melihat,tentu mereka bisa melihat kegelisahan hatinya, yang berulangkali berjalan masuk ke dalam rumah, lalu keluar lagi seakan ada sesuatu yang masih tertinggal. Kadang ia memamandangi hamparan sawah dan gunung itu, namun bukan keindahan yang menyusup ke dalam hatinya.
“Berat rasanya meninggalkan tempat ini. Teman-teman, kenalan, dan penghuni disini telah menjadi bagian hidupku semenjak kecil. Namun semua itu harus kutinggalkan. Aku sudah tidak tahan lagi!”, demikian pikirannya menerawang.
Semua ini demi keselamatan jiwanya yang terancam oleh perbuatan atasannya di tempat ia bekerja. Seminggu yang lalu ia dihadang segerombolan orang saat pulang kerja, selepas kerja lembur. Pada saat itu ia sedang mengendarai motornya melaju menembus jalanan kota yang mulai agak berkurang kepadatannya. Padahal ia telah dengan sengaja mengambil jalan yang cukup ramai meskipun lebih jauh jarak tempuh menuju rumahnya. Tetapi karena saat itu sudah agak larut malam, suasana jalan sudah mulai sepi. Sebelumnya ia telah diingatkan oleh Jira, teman baiknya, agar hati-hati sepulang lembur karena ada usaha untuk mencelakakan dirinya.
“Hati-hati kawan, lemburmu ini sepertinya hanya akal-akalan saja,”  katanya.
“Kenapa begitu? Memang sudah tugasku menyelesaikan masalah administrasi yang kacau ini.” jawabnya.
“Iya, tetapi kekacauan itu sengaja dibuat supaya kamu kena lembur. Aku tahu karena data yang dimasukkan berkali-kali dibuat salah. Pertama karena jumlahnya tidak cocok, lalu dirubah. Berikutnya ada koreksi muatan yang masuk. Dan banyak lagi. Saat itu aku tidak sengaja melewati seorang pesuruh yang menggerutu karena ia harus bolak-balik mengangkut barang yang sama karena perintahnya dirubah-rubah. Kesalahan yang tidak semestinya ini sungguh mengundang kecurigaaku. Kan, sudah biasa mereka lakukan itu dengan rapi, masak sekarang kacau?”
“Alha, kamu terlalu berprasangka. Tetapi terimakasih atas peringatan itu.” katanya
“Aku tidak yakin memang, tetapi ada baiknya kamu berhati-hati.” kata Jira.
Bagaimanapun juga peringatan Jira membuatnya was-was dan tampaknya beralasan jika dikaitkan dengan kejadian-kejadian sebelumnya.
Untung saat akan dicegat oleh segerombolan orang tak dikenal itu, melintas mobil patroli polisi. Dengan segera ia menjatuhkan dirinya dari motor seakan mengalami kecelakaan. Dua orang polisi lalu menghampirinya dan itu sudah cukup untuk menggagalkan niat para penghadangnya.
Anehnya, saat para polisi itu tahu ia tidak menderita luka yang serius, mereka bukannya menolong tetapi berusaha memerasnya.
“Saudara bisa naik motor tidak?! Coba lihat SIM-nya!”
“Ini pak,” jawabnya sambil menyodorkan Surat Ijin Mengemudi atas namanya.
Salah seorang polisi menelitinya sebentar. Ia membolak balik SIM itu,  terlihat dengan jelas  sengaja mencari sesuatu yang salah di kartu itu. Tetapi tidak ada yang salah disitu.
Menyadari hal itu kawan polisi itu justru segera mencecarnya.
“Saudara telah mengendarai motor ini secara sembrono, dan  membahayakan pengguna jalan yang lain. Saudara akan kami tilang!” katanya tegas.
“Tunggu dulu pak. Tadi saya dicegat para preman yang mau merampok, pak.”
“Saudara jangan bohong. Kami tidak melihat siapa-siapa disini!” kata seorang dari polisi itu sambil mengeluarkan buku tilang dan bolpen dari saku bajunya.
Tampaknya para polisi itu memang mencari alasan untuk menilangnya atau memojokkannya sedemikian rupa dan buntutnya seperti biasa,  akan diselesaikan dengan uang damai. Ketika sedang berpikir demikian itu, tampak beberapa orang berjalan menuju mereka dari arah ia datang. Melihat ada orang lain yang menuju ke arahnya, timbul keberaniannya untuk menyangkal tuduhan para polisi itu.  Matanya segera tertumbuk pada sebuah lubang di jalan yang memang tidak semuanya mulus itu.
“Betul, Pak! Saya tidak bohong! Saya melihat mereka akan mencegat saya. Karena kaget saya tidak bisa menghindari lubang di jalan itu sehingga saya jatuh. Kalau bapak mau menilang, tilang saja dinas pekerjaan umum yang tidak becus membuat jalan,” kilahnya sambil balas menyerang.
Melihat para pejalan kaki itu semakin mendekat dan tampaknya calon korbannya keras kepala, kedua polisi itu mengurungkan niatnya dan berjanjak pergi sambil meninggalkan nasihat khas mereka dengan senyum yang kecut.
“Ya sudah. Lain kali harus hati-hati kalau berkendaraan.” nasihatnya.
Mereka menuju kendaraan patrolinya dan segera berlalu.
“Dasar aparat bermental korup! Bukannya melindungi dan melayani rakyat, malah berusaha memeras. Dasar Pagar makan tanaman! Gimana Negara mau maju?” gerutunya sambil menegakkan motornya dan segera pula tancap gas menuju ke rumahnya.

 (…….BERSAMBUNG……)
______________________________________
Sambil menanti lanjutan kisah ALDNP silakan cari inspirasi disini. Duduk santai, dan biarkan hati dan pikiran anda mengembara melintas batas yang selama ini mengungkung cakrawala anda.
VIDEO INSPIRASIONAL
Selamat Menikmati!
                                               
_________________________________________

Read this doc on Scribd: Begini Rasanya Mati..!(ALDNP#3)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60