Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

BENAR versus BAIK (10)

Anak Langit Di Negeri Pelangi - aldnp #10


POWERED BY:Site Build It! Site Build It
Kita lihat apa yang dialami Nina sekembali ke rumahnya. Peristiwa menyedihkan yang menimpa kekasihnya itu turut pula dirasakannya. Ia ingin segera menumpahkannya kepada ayahnya untuk mendapatkan sedikit kelegaan dari himpitan rasa sedih itu. Siapa tahu ayahnya bisa membantunya. Bagi ukuran keluarga Nina, sebuah motor bukanlah barang yang mahal. Meski Nina tahu motor kesayangan Andragi itu tidak tergantikan, mungkin cukup menghibur jika ia mendapatkan gantinya. Siapa tahu ayahnya mau membantu.
Ketika tiba di halaman rumahnya, ia melihat mobil ayahnya sudah ada dan sedang dibersihkan oleh sopir pribadi ayahnya.
“Tumben ayah sudah pulang,” pikirnya.
Tadinya ia berencana akan segera mandi dulu lalu menanti ayahnya pulang, dan kemudian menemaninya makan malam. Saat itulah ia akan menyampaikan niatnya..
“Kok sudah di rumah pak? Memangnya ayah sudah pulang?” tanyanya kepada pak sopir.
“Sudah, Non. Juragan baru saja pulang,” jawab sopir takzim.
Saat Nina membuka pintu, ia melihat ayahnya sedang duduk sambil membaca koran di ruang tamu mereka yang luas dan mewah. Ibunya pun sedang disana menemani ayahnya.
“Selamat sore Yah, selamat sore Bu,” sapa Nina agak datar.
Rasa sedih telah mempengaruhi nada suaranya itu, tidak ceria seperti biasa. Ceria yang membawa suasana segar itu tak terlihat kali ini.
“Selamat sore juga nak,” sahut kedua orang tuanya hampir bersamaan.
“Kok kamu kelihatan lelah?” tanya ayahnya.
Nina sadar ayahnya mengetahui ada masalah dalam dirinya dari suaranya yang tidak ceria seperti biasanya itu. Ia memutuskan untuk langsung menceritakannya saja, mumpung ibunya juga ada. Dihampirinya kedua orang tuanya itu dan memberikan ciuman pipi kepada keduanya. Ia lalu mengambil tempat duduk di samping ayahnya.
“Ada masalah apa nak?” tanya pak Gadar.
Nina lalu menceritakan peristiwa yang menimpa motor kesayangan kekasihnya itu. Dijelaskan olehya betapa ledakan itu begitu kerasnya sehingga mengagetkan seluruh penghuni gedung tempatnya bekerja dan betapa motor Andragi hancur tidak berbentuk lagi. Digambarkan juga oleh Nina betapa hancur hati kekasihnya itu karena motor itu adalah peninggalan orangtuanya yang paling berharga sebelum mereka wafat.
“Itulah sebabnya kenapa ayah pulang cepat hari ini. Ayah ingin membicarakannya denganmu!” kata ayahnya.
Nada bicara ayahnya terasa serius. Nina terperanjat! Bagaimana mungkin ayahnya sudah tahu soal itu berhubungan dengan dirinya?
“Lho, memangnya ayah sudah tahu peristiwa itu? Maksud ayah?!”  tanyanya dengan nada gembira dan penuh harap.
Pak Gadar berdehem dan menelan ludahnya sebelum bicara.
“Begini Nina. Ada hal yang sangat serius menyangkut pacarmu itu, Andragi.” kata pak Gadar tak menghiraukan pertanyaan Nina.
“Ya, memang serius yah! Namanya juga ledakan bom!” timpal Nina dengan cepat.
“Andragi telah melakukan kesalahan yang sangat serius. Apa yang dilakukannya bisa mengancam keselamatan banyak orang, termasuk keluarga kita. Apa kamu sudah tahu apa yang diperbuatnya?” uji pak Gadar.
“Nina dengar dia telah mengungkapkan praktek pembelian fiktif di kantor Nina, Yah. Bukankah itu perbuatan yang benar? Lalu apa bahayanya bagi keluarga kita?” Tanya gadis itu polos.
Pak Gadar menghela napas panjang. Anaknya itu sungguh masih polos. Ia memang tidak pernah bercerita tentang sepak terjangnya selama ini. Bahkan istrinya pun tidak tahu menahu. Kedua wanita itu hanya tahu kalau suaminya bekerja di lembaga keuangan negara dengan posisi yang cukup baik dan memiliki penghasilan yang berlimpah ruah. Semua itu dikatakannya sebagai pemberian dari orang-orang yang berterimakasih atas bantuannya meloloskan anggaran yang mereka ajukan. Dia beralasan tidak dapat menolak pemberian semacam itu karena seluruh pegawai disana menerima pemberian itu. Ia harus setia kawan atau kalau tidak justru akan dikucilkan atau dicopot jabatannya.
“Nina, perbuatan Andragi itu memang benar tetapi tidak baik. Antara baik dan benar itu beda!” kata pak Gadar.
“Maksud ayah?”
 “Yang benar itu belum tentu baik dan yang baik itu belum tentu benar. Perbuatan Andragi itu benar menurut hukum tetapi akibatnya akan membuat banyak orang menderita. Tahukah kamu kalau dengan begitu akan banyak anak yang tidak bisa sekolah lagi atau bahkan kekurangan makan karena ayahnya tidak membawa pulang hasil yang cukup? Kalau itu terjadi, jelas perbuatan Andaragi itu tidak baik!”
“Tetapi perbuatan jahat kan memang harus mendapatkan ganjarannya, kan?” Ayah dan juga Ibu kan mengajarkan Nina hal itu?” protesnya.
“Iya, tetapi kamu harus bisa membedakan antara yang baik dan yang benar. Kalau benar dan juga baik, harus kita dukung. Tetapi kalau hanya benar saja tetapi tidak baik, kamu harus mempertimbangkannya masak-masak!” kotbah pak Gadar.
“Nina tidak mengerti ......,” kata gadis itu mulai menangkap gejala yang tidak enak.
“Kamu tahu, uang hasil pembelian fiktif itu sebenarnya disalurkan ke Yayasan Dana Pegawai kantor kamu dan dana taktis operasional kantor. Uang tersebutlah yang selama ini dipakai untuk memberi tambahan penghasilan bagi seluruh pegawai, termasuk Andragi dan kamu juga. Juga dipakai untuk memberi uang perjalanan dinas, rapat dan bea siswa bagi anak pegawai yang berprestasi dalam pendidikan. Nah, kalau perkara ini sampai bocor keluar dan praktek itu dihentikan, kamu bisa melihat akan banyak orang yang menderita. Bukannya menjadi pahlawan, pacarmu itu akan dimusuhi orang banyak. Kamu sebagai pacarnya pun akan terkena getahnya!” tegas pak Gadar.
Sekarang Nina merasa semakin tidak enak. Di cakrawala hatinya yang semula bening, mulai tampak awan tipis berarak menghalangi sinar keceriaan hatinya.
“Selain itu, pak Duma dan jajaran pimpinan kantor kamu akan dipersalahkan, dicopot dan bisa masuk penjara. Sebagai anak ayah, ayah tidak mau kamu menderita dan pak Duma yang telah menolong ayah dan menerima kamu bekerja disana juga menderita akibat ulah anak itu!” lanjut pak Gadar.
Kata ‘anak itu’ mengisyaratkan adanya kejengkelan dihati pak Gadar terhadap Andragi. Kini awan itu semakin banyak dan hitam. Hatinya mulai diselimuti mendung  tebal.
“Jadi, maksud ayah?” tanya Nina.
“Ayahmu meminta kamu memikirkan kembali hubunganmu dengan pemuda itu,” sela ibunya yang sedari tadi diam saja.
Rupanya kedua orangtuanya itu telah bersepakat sebelum dia datang. Langit di hatinya itu kini berubah menjadi gelap pekat. Awan cumulus nimbus yang hitam menari bergulung-gulung. Udara terasa gerah dan lembab.
“Begitukah, ayah?” tanyanya seakan tak percaya.
“Ya!! Tegasnya, ayah meminta kamu memutuskan hubunganmu dengan anak itu!” jawab pak Gadar dengan nada yang menekan.
Glaaarrr!!!
Halilintar keras menyambar hatinya.
“TIIIIDAAAK!!” teriaknya sambil beranjak hendak berlari meninggalkan ruangan itu.
      
Tetapi ibunya telah lebih dahulu menutupi jalan, menghalanginya pergi.
“Sabar, nak. Dengar dulu,..,” kata ibunya lembut.
“Ada hal yang lebih serius yang perlu kamu tahu!” lanjut ibunya.
“Tiidakk! TIDAKKK! Tiidak!! Ayah, Ibu berdua jahat!!!” kata Nina mencoba mendorong ibunya ke samping.
Pak Gadar memberi isyarat kepada istrinya untuk melepaskannya. Nina segera menghambur ke kamarnya, membanting pintu dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya yang empuk. Ia pun menangis terisak-isak. Halilintar itu telah membuatnya terguncang.
“Bagaimana ini pak?!” tanya istrinya, panik.
“Tenang, bu. Hatinya masih terguncang keras. Ingat, hari ini sudah dua kali ia terguncang. Nanti, sebentar lagi ibu yang akan mengetuk kamarnya mengajaknya bicara. Kalau ia tidak mau membuka pintunya akan ayah minta pak Duma menelponnya, seakan ingin bertanya kabar Andragi yang  tak bisa dihubunginya setelah motornya diledakkan,” pak Gadar menjelaskan siasatnya.
“Baik, Yah. Ibu akan memberinya pengertian.”
Dalam isaknya terbayang wajah kekasihnya Andragi, yang sedari tadi ia bangga-banggakan karena berprestasi mengungkap kasus jahat itu. Mana mungkin kini harus ia meninggalkannya. Cintanya yang tulus tak bisa dihapuskan hanya oleh ancaman seperti itu. Bila pun ia harus menderita, biarlah itu akan ia jalani bersama orang yang disayanginya. Ia takkan meninggalkannya sendirian menanggung akibat dari perbuatannya yang sebenarnya mulia itu.
Tiba-tiba ia teringat tujuan semula menemui ayahnya.




“Bukankah aku tadi ingin menceritakan kejadian itu kepada ayah, tetapi kok nyatanya ayah telah tahu semuanya. Tentu pak Duma telah menelpon ayah. Tapi, rasanya tetap ada yang aneh. Atau mungkin ayahnya mengetahui sesuatu di balik peristiwa ledakan bom itu. Bukankah ayahnya yang menyetujui anggaran kantornya? Mustahil ayahnya tidak terlibat!” pikir Nina melayang jauh.
Ia segera bangkit dan ……pada saat itu terdengar ketukan di pintu diikuti suara ibunya.
“Nina, Nina…, kamu mendengar ibu nak? Bukakan pintu nak. Ibu mau bicara.”
Nina langsung memburu ke pintu dan membukanya dengan kasar. Ibunya terkejut, hingga melangkah mundur.
“Saya yang akan bicara dengan Ibu dan ayah!” suaranya tegas namun bergetar.
Ia segera menarik lengan ibunya dan menghelanya menuju ruang dimana ayahnya berada. Pak Gadar yang bersiap hendak menelpon pak Duma segera mengurungkan niatnya.
“Ayah! Bagaimana ayah tahu kalau tadi terjadi ledakan yang menimpa Andragi?!”
“Ayah ditelpon pak Duma,” jawab ayahnya.
“Bagaimana ayah tahu kalau dana-dana itu dipergunakan untuk berbagai hal baik?”
Pak Gadar tahu pertanyaan itu menjebak dirinya. Kalau ia katakan Pak Duma yang menceritakan berarti ia tidak tahu. Dan itu mustahil, karena dialah yang meloloskan anggaran yang janggal dari kantor Nina setiap tahun. Itu juga berarti ia telah berbohong kepada Nina sementara Nina tahu kalau ia berbohong. Hasilnya tentu akan lebih buruk karena Nina tidak percaya lagi padanya. Karena itu ia memutuskan untuk berterus terang.
 

(…….BERSAMBUNG……)


VIDEO INSPIRASIONAL
Sambil menanti lanjutan kisah ALDNP silakan cari inspirasi disini. Duduk santai, dan biarkan hati dan pikiran anda mengembara melintas batas yang selama ini mengungkung cakrawala anda.

Selamat Menikmati!

Read this doc on Scribd: BENAR versus BAIK (ALDNP#10)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60