Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Bunuh Diri Massal! (06)

Anak Langit Di Negeri Pelangi - aldnp #6


“Iya mas Andragi. Masalah itu ternyata sama dengan peritiwa enam belas tahun yang lalu. Setali tiga uang. Pada waktu itu paman bekerja di bagian yang mas Andragi pegang. Paman memiliki dua orang sahabat yang bekerja di bagian pergudangan dan pembelian. Kami bertiga menjadi dekat karena masing-masing melihat ada yang tidak beres dan kebetulan ketika saling menjajagi satu sama lain kami merasa memiliki prinsip yang sama yaitu kami tidak bisa berbuat tidak jujur. Diam-diam kami bertiga berencana membongkar kecurangan itu. Kami masing-masing berusaha mendapatkan bukti yang meyakinkan. Dan bukti itu akhirnya kami dapati juga, tepatnya kawan paman berdua itu yang menemukannya karena pada saat itu paman sedang bertugas di luar kota selama dua minggu. Karena takut momentumnya hilang, mereka berdua tidak bisa menunggu paman pulang baru mengungkapkannya. Lagi pula mereka merasa aman karena pimpinan kami tampaknya membenci tindakan korup dan sejenisnya. Dalam berbagai kesempatan beliau dengan tegas berpidato perlunya memberantas korupsi dan penyelewengan uang rakyat. Tidak jarang pula beliau berkotbah pada acara-acara hari besar keagamaan. Karenanya kawan paman berdua itu yakin akan mendapatkan tanggapan yang positif dari beliau. Mereka berdua lalu menyampaikan temuan itu pada rapat, sama seperti yang mas Andragi lakukan tadi siang. Tapi…,”
Paman Hudi berhenti sejenak. Suaranya menjadi serak saat mengucapkan kata “tapi” itu. Terlihat air mukanya semakin kelam. Pada cekung matanya sebutir mutiara terlihat menetes. Disekanya air mata itu dengan punggung tangannya, lalu menghela napas dalam-dalam seakan berusaha memberi rasa lapang pada dada kurus yang terhimpit beban berat menyesakkan. Jira segera menyodorkan air putih yang telah disediakan sebelumnya. Setelah minum beberapa teguk, Jira segera memburunya.
“Tapi, kenapa paman?”
“Iya, itulah,” paman Hudi  menghela napasnya lagi.
“Bukannya mendapatkan tanggapan yang baik, mereka malah dituduh ingin merusakkan nama baik kantor kami. Mas Tarno, salah satu kawan paman itu seminggu kemudian mengalami kecelakaan saat keluar kota. Ia tewas karena mobilnya masuk jurang. Polisi mengatakan penyebabnya karena rem-nya blong. Kasihan istri dan anaknya yang masih kecil-kecil. Mereka terlunta-lunta, berpindah dari rumah kontrakan yang satu ke rumah kontrakan yang lain. Sering istrinya itu tidak makan demi ke tiga mulut anaknya yang kelaparan. Aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa saat itu…”
Air mata paman Hudi mengambang bagai akan tumpah. Matanya berkaca-kaca. Ia lalu mengambil sapu tangannya untuk mengeringkan kedua matanya yang basah itu. Berkali-kali ia menghela napasnya. Ada beban yang begitu berat menjepit dada tua itu. Jira dan Andragi dengan sabar menunggu paman Hudi mengatur napasnya kembali. Ia lalu melanjutkan…
 “Sedangkan Radi, kawan paman satunya lagi tidak kurang tragis nasibnya. Ia dituduh mencemarkan nama baik dan diadili karena tidak dapat menunjukkan bukti-bukti yang diperlukan. Rupanya berkas-berkas yang dimilikinya dan disimpannya dikantornya telah dicuri orang. Dengan hilangnya berkas-berkas itu ia tidak dapat mengelak dari tuduhan mencemarkan nama baik pimpinan dan lembaga Negara. Ia dinyatakann bersalah dan di buang di Pulau Kejar.”
“Apakah paman Radi masih hidup disana?” kejar Jira.
“Kabar yang paman peroleh dari orang-orang yang berhasil lolos dari sana menyebutkan kalau mas Radi tewas diceburkan ke laut. Para serdadu yang membawa mereka ke tempat pembuangan sering tidak perlu merepotkan diri membawa mereka ke tujuan jika tidak disediakan uang atau harta secukupnya untuk menyuap mereka. Bagi mereka yang berharta, biasanya mereka dipaksa untuk menandatangani surat kuasa atau penyerahan harta kekayaan mereka kepada oknum serdadu setibanya di tempat pembuangan. Tentu keluarganya akan jatuh miskin akibatnya. Akan halnya mas Radi, ia tidak berasal dari keluarga berada. Besar kemungkinan ia memang telah tewas saat dibawa ke pulau pembuangan itu. Untungnya mas Radi masih bujangan dan orang tuanya telah tiada..”
“Lalu paman sendiri bagaimana?” cecar Jira.
“Itulah yang menghimpit hati paman. Saat mengetahui nasib mas Tarno dan mas Radi paman secara diam-diam menghilang dari kota ini. Paman takut mereka mengetahui keterlibatan paman. Tetapi rupanya kedua sahabat paman itu benar-benar sahabat sejati. Mereka tidak pernah membuka mulut bahwa paman adalah teman mereka dalam skandal itu. Itulah yang membuat paman menyesal. Paman ini penakut!...Banci!!’ maki paman Hudi pada dirinya sendiri.
      
 “ Andai saja paman memiliki keberanian, paman tentu masih tetap dapat bekerja di kantor itu atau atau di kantor lainnya tanpa perlu bersembunyi. Dengan begitu paman bisa menolong nasib anak istri Tarno yang terlunta-lunta itu….”
Tampak matanya memerah menahan sesal, amarah dan kesedihan yang demikian menyesakkan.
  “Kalian tahu bagaimana nasib mereka?” tanyanya/
Secara spontan mereka menggeleng.
“Sangat tragis! Karena tidak tahan melihat penderitaan yang dialami anak-anaknya, istri Mas Tarno melakukan bunuh diri bersama anak-anaknya dengan cara terjun di laut selatan yang bertebing tinggi dan berombak besar. Satu persatu anaknya di lempar ke laut lalu ia menyusul terjun….”
“Baru lima tahun yang lalu paman tahu kalau orang-orang dikantor paman sama sekali tidak tahu keterlibatan paman. Seorang kawan yang baru pensiun menceritakan itu saat secara kebetulan kami bertemu di jalan. Kalau saja paman ini tidak pengecut….. Sayang….sayang sekali..!!!”
Kedua anak muda itu membiarkan pria tua itu melampiaskan kekecewaannya sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.
“Makanya ketika paman mengetahui Jira bekerja disitu, paman memesannya untuk memberi tahu kalau terjadi hal seperti ini lagi. Paman kenal ayah Jira karena kami berasal dari satu kampung. Makdudnya agar paman bisa mengingatkan kalian sehingga tidak perlu jatuh korban lagi. Dengan begitu paman bisa sedikit mengobati penyesalan yang menyiksa paman ini.”
 
“Jadi, maksud paman kejadian siang tadi belum tentu berakibat baik?” tanya Andragi yang sejak tadi diam saja.
“Betul. Mereka bisa saja di dalam forum resmi terlihat membuka diri, bahkan berterima kasih atas laporan yang kamu sampaikan, tetapi belum tentu demikian di hatinya. Bukankah bos kami yang dulu itu juga bersikap baik dan anti korupsi?”
“Tetapi itu kan dulu, paman. Sekarang kan pemerintahannya sudah ganti?” sela Jira.
“Pemerintah memang sudah ganti, tetapi sistemnya kan tetap yang dulu juga. Apalagi mentalitas manusianya masih sama seperti yang dulu. Mungkin malah lebih buruk. Dengan model demokrasi yang tanpa landasan kedewasaan yang berkembang secara matang, para penguasa itu akan memanfaatkan waktu berkuasanya yang sempit untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Mungkin malah bisa lebih kejam dari yang dulu.”
Paman Hudi berhenti sejenak. Ia melihat kebimbangan terpancar dari mata Andragi.
“Paman bukan bermaksud menakut-nakuti kamu, tetapi ada baiknya kamu berhati-hati. Cara yang mereka gunakan sering sulit diduga dan sangat rapi. Bukankah kematian mas Tarno akibat kecelakann itu hanya dapat kita duga saja penyebabnya oleh mereka. Tetapi bagi kebanyakan orang itu hanya kecelakaan biasa. Juga kematian mas Radi. Sampai kini mayatnya pun tidak pernah diketahui dimana adanya.”
“Karena itu sebaiknya kalian harus hati-hati, terutama kamu Andragi. Usahakan jangan pernah berada sendirian, atau menemui orang asing sendirian. Jangan menerima tugas-tugas yang selama ini asing bagimu. Dan jangan pernah melakukan hal-hal yang bersifat rutin terus menerus. Sesekali harus kamu rubah.”
“Maksud paman?” tanya Andragi.
“Misalnya rute kamu pulang pergi ke kantor. Jangan selalu melalui jalan yang sama setiap hari.  Itu akan membuat mereka mudah melakukan rencana jahat mereka mencelakakan kamu,” lanjutnya.
“Oh ya, jangan lupa sembunyikan berkas-berkas berharga kamu di tempat yang aman. Jangan kamu simpan di kantor. Mereka akan bisa mencurinya. Selain itu selalu periksa ruangan dan alat kerja kamu secara teliti sebelum memakainya. Dan jangan makan sembarang makanan yang kamu tidak tahu asal dan pembuatnya.”
“Baiklah paman. Terima kasih atas nasihat dan peringatan paman. Saya akan berhati-hati.”
Andragi segera pamit pulang setelah mendapat berbagai nasihat lainnya. Sesampai di rumahnya ia segera jatuh tertidur sehabis makan malam. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah menjalani hari yang penuh ketegangan, terutama dalam rapat siang tadi.
        
(…….BERSAMBUNG……)

Read this doc on Scribd: Bunuh Diri Massal! (ALDNP#6)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60