Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Kau Ku Suap Kau Ku Perangkap (aldnp 25)

Anak Langit Di Negeri Pelangi - aldnp #25

Mereka lalu meninggalkan tempat itu menuju markas Sontoloyo menerobos hutan dan lembah. Setelah melalui berbagai kesulitan akhirnya mereka tiba di pintu gua akar gantung itu. Disana telah menunggu kakek Bulesak yang dengan ramah menyambut rombongan yang lelah jasmani dan rohaninya. Setelah berbasa-basi sebentar, kakek Bulesak mempersilakan mereka untuk beristirahat. Keluarga Paldrino menempati sebuah ruang khusus yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Andragi dan Loyo sebelum mereka berangkat ke Buntung.
Kita ikuti lagi sepak terjang Pangeran Muda Jaira dan Tamakir.
Seusai pertemuan yang menggemparkan di kawedanan Buntung itu, secara terpisah Tamakir segera mengundang Jaira dan Sukadu ke tempat perjudiannya, pada saat yang agak berbeda. Jaira diminta datang lebih awal.
“Selamat Pangeran Muda! Pangeran sekarang sudah menjadi Pahlawan masyarakat Buntung!” sapa Tamakir setelah keduanya duduk di ruang khususnya itu.
“Ah, terima kasih. Itu kan berkat
kepandaian Ki Lurah,” jawab Jaira.
“Langkah pertama telah dijalankan dengan bagus, tetapi belum selesai. Masih ada pekerjaan yang perlu dibereskan, Pangeran.”
“Maksud Ki Lurah, mengamankan si tersangka itu?”
“Betul, Pangeran. Tapi itu yang yang kedua. Yang pertama kita harus mengamankan penyelidikan yang dilakukan oleh Pamong Negeri serta para saksi mata,” kata Tamakir.
“Soal saksi mata, saya jamin tidak ada Ki Lurah. Rumah Wedana kan agak terpisah dari rumah-rumah penduduk, dan saat melihat kami menyerang mereka semua ketakutan dan masuk rumah masing-masing. Tidak ada yang berani mendekat. Lalu soal bukti-bukti juga sudah aman. Kedua mayat pembakar sudah dibuat tak mungkin dikenali. Sedangkan mayat Paldrino dan keluarganya sudah hancur menjadi abu,” jawab Jaira.
“Yah, syukurlah. Tetapi ada yang mengganggu pikiran saya. Kenapa Bedul Brewok tidak ada diantara mayat-mayat itu, Pangeran?” tanya Tamakir.


“Kami memang tidak melihatnya disana. Karena itu saya perintah anak buah saya utnuk mencarinya, tetapi tidak ketemu. Mungkin saja saat melihat kedua temannya kami bunuh, dia segera melarikan diri.”
“Ya..ya.., bisa saja demikian,” kata Tamakir sambil berpikir keras.
“Tetapi saya khawatir kalau dia telah berkhianat. Buktinya sampai saat ini pun dia belum kembali. Mungkin saja dia mencuri dengar pembicaraan kita lalu melarikan diri. Tetapi bisa juga dia memang dari semula berniat untuk mengkhianati saya.”
“Kenapa Ki Lurah menduga begitu?” 
“Soalnya sehari sebelumnya, setelah anak setan itu membakar air, dia menghilang entah kemana. Waktu kembali dia bilang dia menguntit perginya anak setan itu untuk membunuhnya dari belakang. Tetapi bisa juga dia punya motif lain. Brewok itu sebenarnya seorang pengembara yang selalu mencari ilmu kesaktian yang lebih tinggi. Saya kira dia pergi menemui anak muda itu dan minta menjadi muridnya. Sebagai bukti ketulusannya dia membocorkan rahasia rencana membunuh Wedana itu dan bersedia mengkhianati saya.”
“Wah, kalau benar begitu, bisa jadi lain ceritanya!” sahut Jaira.
“Nah, kalau itu yang terjadi, bisa saja dia telah menyelamatkan Wedana dan menghilang bersama mereka,” kata Tamakir.
“Tetapi saat kebakaran tercium bau daging terbakar dengan kerasnya dan saya melarang anak buah saya menyelamatkan mereka dengan alasan sudah terlambat. Karena tubuh-tubuh mereka sudah terbakar hancur, saya tidak perlu repot-repot memeriksanya. Atau...,”
Kata-kata Jaira terputus karena tiba-tiba dia menyadari keteledorannya.
 “Mungkinkah....?” lanjutnya sambil mengangguk-angguk.
“Ya,.. mungkin saja yang hangus itu hanya kerbau atau sapi yang sengaja dimasukkan ke rumah untuk mengelabui,” sahut Tamakir menebak tepat pikiran Jaira.
“Kalau begitu saya akan perintahkan anak buah saya untuk menghilangkan sisa-sisa yang ada,” kata Jaira.
“Jangan, Pangeran. Itu justru akan mengundang tanda tanya. Lagi pula sekarang sudah menjadi urusan Pamong Negeri. Tentu Pangeran tidak ingin melihat anak buah Pangeran bertengkar dengan anak buah Sukadu, bukan?”

“Lantas, bagaimana Ki Lurah?”                        
“Jangan khawatir. Saya sudah memikirkan jalan keluarnya. Saya sudah mengundang Sukadu kesini. Sebentar lagi tentu dia datang. Pangeran tahu kan kalau dia itu suka duit, sama seperti kita..ha ha..haha..!”
“Ha..ha..ha...!” sambung Jaira.
 “Kita akan suap dia dan anak buahnya untuk menyatakan kalau sisa-sisa tubuh yang terbakar itu memang tubuh manusia. Jumlahnya sama dengan anggota keluarga Wedana. Saya sudah menyiapkan sejumlah uang untuk itu,” kata lurah licik itu.
“Tetapi, itu berarti dia akan tahu kalau kita berkomplot, Ki Lurah!”
“Memang, tetapi tidak menjadi masalah. Sekalian kita perangkap dia menjadi komplotan kita, he...he..he..!” kata Tamakir tertawa gembira memuji kelihaian dirinya
“Nah, untuk itu Pangeran Muda harus mengiming-imingnya dengan jabatan Kepala Pamong Negeri Kadipaten Megalung kalau Pangeran Muda berhasil menjadi Adipatinya.”
“Ki Lurah memang berpikiran jauh,” pujinya.
Pada saat itu seorang anak buah Tamakir memberitahu kedatangan Sukadu. Lurah Brangin menyuruhnya mempersilakan Sukadu masuk.
“Ah, Pak Sukadu. Terima kasih atas kedatangannya. Silakan masuk,” sapa tuan rumah.
“Terima kasih kembali,” jawab Sukadu. “Oh, rupanya disini ada tamu istimewa, Pahlawan kita,” kata Sukadu dengan ramah.
Keramahan yang berselimut rasa jengkel dan iri karena semestinya dialah yang bertugas menangkap para penjahat. Bukan tentara!
      
 “Ah, Pak Sukadu bisa saja. Kebetulan kami sedang dalam perjalanan mau menangkap Anak Langit yang katanya pernah dilihat orang di Padepokan Kalbusih, ketika kami melihat rumah Wedana terbakar. Kami segera bertempur melawan pelakunya tanpa sempat memberi tahu Pak Sukadu terlebih dahulu,” jelasnya membela diri.
“Oh, tidak apa-apa. Sama saja, siapapun yang menangkapnya. Yang penting negeri kita menjadi aman, bukan? Saya justru berterima kasih kepada Pangeran Muda karena telah meringankan tugas saya,” kata Sukadu diplomatis.
Kentara sekali hawa kepura-puraan diantara mereka. Suasananya dapat dikatakan sebagai keramah-tamahan yang kaku atau kekakuan dalam keramah-tamahan. Yang pasti keramah-tamahan yang tidak tulus, tidak berasal dari nurani yang terdalam.
Sebenarnya, suasana persaingan yang dibungkus dalam keramah-tamahan palsu seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan para pejabat negeri Klapa Getir yang sangat korup ini. Semua orang menjaga kepentingannya masing-masing dengan berpura-pura ramah, sementara otak mereka mencari cara menjatuhkan sesama mereka atas nama kepentingan rakyat, bangsa dan tanah air.
 Sebagai tuan rumah, Tamakir segera mencairkan suasana yang tidak nyaman itu.
“Begini, Pak Sukadu. Saya bicara terus terang saja. Saya baru dengar kalau pak Sukadu menginginkan sawah dibilangan Winong, sebelah barat desa Buntung itu,” kata Tamakir. 
“Yah, tadinya begitu. Tapi sudah kedahuluan jadi milik Ki Lurah, kan?” jawab Sukadu.
“Saya minta maaf, karena saya tidak tahu waktu membeli dulu.Karena itu saya bermaksud menyerahkannya kepada pak Sukadu,” pancing Tamakir.
“Wah, tentu harganya sudah jauh lebih mahal dari yang dulu setelah di tangan Ki Lurah. Mana kuat saya membayarnya,” balas Supadu balik memancing.
“Tidak, tidak lebih mahal. Bahkan saya berikan secara cuma-cuma. Tidak perlu membayar!” jawab Tamakir mantap.
“Maksud Ki Lurah?” tanya Sukadu curiga.
Tamakir lalu menceritakan tentang persekongkolannya dengan Jaira menyingkirkan Wedana Buntung, tetapi tampaknya Paldrino dan keluarganya telah lolos akibat pengkhianatan Bedul Brewok. Sedangkan tubuh-tubuh yang hangus di rumah itu kemungkinan besar hanya anak kerbau atau sapi.
Juga diceritakannya tentang ambisi Jaira untuk menjadi Adipati di Megalung.
“Jadi, kami berdua minta supaya pak Sukadu memberikan laporan kalau Paldrino dan seluruh anggota keluarganya benar-benar tewas dalam peristiwa itu,” kata Lurah Tamakir mengakhiri ceritanya.
“Selain itu,” sambung Jaira, “Pak Sukadu sebagai teman dekat kami akan saya angkat sebagai Kepala Pamong Negeri Kadipaten Megalung kalau kita berhasil nanti.”
Dalam hati Sukadi tersenyum. Sebenarnya dia telah curiga terhadap Jaira atas peristiwa itu, sehingga orang ini muncul sebagai pahlawan.
Tadinya Sukadu bermaksud memeras Jaira setelah menyelidiki bukti-bukti yang ada. Tetapi hal itu sekarang tidak perlu lagi. Bahkan tawaran Ki Lurah jauh lebih besar dari yang dia bayangkan jika hanya memeras Jaira. Belum lagi janji Jaira untuk memberinya jabatan yang lebih tinggi. Sungguh nasib baik, pikirnya.
“Tetapi anak buah saya harus di sumpal juga, Ki Lurah,” kata Sukadu semakin rakus.
“Jangan kuatir. Untuk mereka sudah saya sediakan juga. Ini..! Tentunya sebagian untuk pak Sukadu sendiri,” jawab Tamakir sambil menyodorkan segepok uang.
“Ah, baiklah kalau begitu. Saya akan segera mengamankan barang bukti itu sebelum anak buah saya buka mulut,” kata Sukadu.
Sukadu lalu segera pamit menuju tempat kejadian perkara dengan hati yang berbunga-bunga.
“Dengan uang ini aku bisa kawin lagi,” pikirnya senang.
Selepas Sukadu pergi, Tamakir dan Jaira meneruskan pembicaraan mereka soal pengamanan lelaki yang dijadikan tersangka itu.
“Soal tersangka itu, apa rencana Pangeran Muda?” tanya Tamakir.
“Saya berencana menghabisinya agar tidak buka mulut,” jawab Jaira.
“Dia memang harus tutup mulut, tetapi jangan membunuhnya. Itu terlalu kasar. Orang akan menduga kalau di lingkungan aparat pemerintah telah ada kaki tangan pemberontak atau bahkan curiga akan adanya persekongkolan. Pihak hakim wilayah akan menjadi tidak enak sehingga malah akan berusaha membongkar persekongkolan kita untuk membersihkan diri,” kata Lurah Tamakir. 
“Jadi, apa yang kita lakukan, Ki Lurah?”
“Pertama, kita usahakan agar terdakwa tidak dikirim ke Kadipaten atau Kotaraja untuk disidangkan oleh Hakim yang lebih tinggi. Biasanya kasus pemberontakan akan dibawa ke pusat pemerintahan, kan?” jelas Tamakir.
“Karena itu,” lanjutnya, “Saya sudah menyiapkan uang agar Pangeran menyuap hakim wilayah Buntung untuk memutuskan terdakwa di penjara disini saja, dengan alasan diperlukan untuk penyelidikan lebih lanjut membongkar jaringan pemberontak pimpinan Pemuda Pembakar Air. Nah, dengan begitu Pangeran bisa membawanya ke markas Pangeran dan mempekerjakannya disana tanpa boleh leluasa keluar. Supaya dia tenang dan tidak berani buka mulut, keluarganya kita jamin kehidupannya. Lambat laun dia akan sadar untuk memilih diam dari pada keluarganya sengsara,” papar Tamakir mantap.

(…….BERSAMBUNG……)
VIDEO INSPIRASIONAL
Sambil menanti lanjutan kisah ALDNP silakan cari inspirasi disini. Duduk santai, dan biarkan hati dan pikiran anda mengembara melintas batas yang selama ini mengungkung cakrawala anda.

Selamat Menikmati!

Read this document on Scribd: Kau Ku Suap Kau Ku Perangkap (aldnp 25)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60