Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Dunia Ganjil: Berharap yg BUSUK yg MENANG..!! (aldnp 26)

Anak Langit Di Negeri Pelangi - aldnp #26

“Persis seperti yang saya pikirkan.” kata Jaira. “Saya sudah menjanjikannya begitu agar ia mau mengakui sebagai kaki tangan pemuda setan itu.”
Dan itulah yang terjadi. Hakim wilayah yang sudah menerima suap dari Jaira dan mendapatkan bukti dari Sukadu tentang tewasnya Paldrino dan keluarganya memutuskan terpidana di hukum penjara dua puluh tahun dan dipenjara di Buntung demi penyelidikan lebih lanjut.
Sebulan setelah peristiwa itu Tamakir terpilih mejadi Wedana Buntung. Hal itu berkat kekuatan uang suap, dan cara-cara licik sehingga banyak pemilih tidak punya pilihan lain selain mencoblos tanda gambar Tamakir.  Selain itu, para saksi dan petugas Pilkadal (Pemilihan Kepala Daerah Langsung) Buntung setelah makan suap berlaku curang dalam perhitungan suara atau mengganti bukti coblosan lawan dengan bukti coblosan yang menusuk tanda gambar Tamakir. Agar lawan tidak protes, mereka juga disuap atau diancam secara halus maupun kasar.
Salah satu cara yang dilakukan dengan jitu yaitu dengan menggunakan metode Serangan Fajar yang dilakukan tiga hari menjelang Pilkadal. Dini hari sebelum penduduk turun ke sawah, orang-orang Tamakir membuka lebar saluran air dan membelokkan aliran air yang menuju sawah milik lawannya tanpa menyisakan sedikitpun aliran air menuju sawah-sawah milik penduduk lainnya. Padahal sudah menjadi ketentuan umum pengaturan air dilakukan secara musyawarah dan dilakukan bersama-sama. Saat para petani mendapati sawah mereka kehabisan air, mereka beramai-ramai mencari penyebabnya dan menutup saluran yang menuju sawah milik lawan Tamakir.




“Belum jadi wedana saja sudah sewenang-wenang, bagaimana kalau sudah jadi nanti?” keluh seorang petani.
“Eh, tunggu dulu! Rasanya tidak mungkin kalau dia yang melakukan. Itu tindakan bodoh. Ini lebih mungkin dilakukan oleh lawannya si Tamakir itu biar kita membenci lawannya dan memilih dia,” kata petani yang lebih tua.
Dini hari berikutnya kejadian serupa terjadi lagi, tetapi kali ini mereka dipergoki oleh tiga orang petani yang sengaja menunggui saluran air itu.
“He! Kenapa kalian membelokkan air itu kesana?  Siapa kalian?”
Para pembobol air yang tidak lain para tukang pukul Lurah Brangin menghampiri penegurnya dengan garang sambil siap menghunus golok.
“Kami anak buah Tamakir, mau apa kalian!” tantang mereka.
Para petani itu menjadi kecut hatinya, mereka tak berani menjawab. Mereka tahu betul perangai para tukang pukul Tamakir dan kekuatan uang lurah serakah itu.
“Ini peringatan buat kalian! Jika juragan kami Tamakir tidak terpilih menjadi wedana kalianlah penyebabnya karena tidak mencoblos Tamakir. Sawah kalian akan kami buat selalu kekeringan, atau hewan kalian akan selalu hilang dicuri orang. Ingat itu!”
Para petani itu hanya diam, takut.
“Kalau orang-orang tahu ini perbuatan Tamakir, kalianlah yang biang keroknya dan akan tahu sendiri akibatnya. Kami tidak akan segan-segan mencelakakan anak istri atau keluarga kalian! Mengerti?!” bentak pimpinan tukang pukul.
“Tapi... ka..mi..”
“Diam! Kau!! Dan Dengar ini baik-baik!!” bentak seorang dari tukang pukul itu.
“Mulai pagi ini kami harus mendengar pembicaraan orang di pasar bahwa lawan Tamakir telah berbuat jahat merampas jatah air kalian, mengerti?! Sekarang kalian pulang dan ceritakan itu kepada anak istri kalian. Awas kalau sampai terjadi sebaliknya. Leher kalian akan jadi taruhannya!”
Ketiga petani itu pulang dengan lesu.
Dan memang benar dmikian yang terjadi. Siang harinya tersebar gosip lawan Tamakir telah mencuri air jatah para petani lainnya. Meski banyak dari mereka yang meragukan berita itu, tetapi mereka dengan ‘arif’ memilih meneruskan berita itu sebagaimana aslinya.
Lawan Tamakir tentu saja mencoba membantah, tetapi gosip telah begitu deras menyebar. Ia bahkan didatangi oleh Jaira dan Sukadu yang menekannya dengan isu tuduhan palsu.
“Kalau saudara membantah berita itu, itu sama saja berarti menuduh Lurah Brangin lawan saudara sebagai pelakunya. Ia bisa menuntut saudara dengan tuduhan pencemaran nama baik,” kata Sukadu.

      

“Sebagai Pamong Negeri, saya harus bisa menjawab pertanyaan orang banyak. Karena itu saya hanya akan menjawab bahwa peristiwa itu sedang kami selidiki, dan kemungkinannya bisa macam-macam. Bisa saja Tamakir yang melakukan untuk menjelekkan nama saudara, tetapi bisa juga saudara yang melakukan untuk menjelekkan Tamakir dengan alasan saudara tidak mungkin berbuat sebodoh itu,” lanjut Sukadu.
“Saya kira sebaiknya saudara tidak perlu membantahnya. Biarlah kalah kali ini, karena kita akan punya mainan lain untuk saudara nanti. Bagaimana?” tanya Jaira.
Lawan Tamakir hanya bisa mengangguk diam. Ia jelas tidak punya pilihan lain. Kalaupun ia menang, pemerintahannya pasti akan selalu diganggu oleh Lurah Brangin dan kedua komplotannya ini yang juga memiliki jabatan tinggi di kawedanan Buntung.
Lawan Tamakir ini terpaksa menurut saja apa yang diminta oleh Jaira dan Sukadu. Ia memilih menutup mulut alias diam seribu basa. Bahkan seribu tiga.Bukankah pepatah bilang diam itu emas?
Namun begitu di dalam hatinya ia selalu bertanya-tanya: “benarkah Diam itu emas?” Bukankah dengan diamnya itu si Tamakir yang mendapatkan emas itu! Sedangkan rakyat Buntung akan medapatkan kerugian akibat ‘emas’ mereka akan dirampas oleh lurah tamak beserta kedua kroninya itu. Adapun dirinya hanya akan gigit jari tak mengecap apapun dari ke’diaman’nya itu, selain terhindar dari ancaman Sukadu dan Jaira. Bagi dirinya diam yang terpaksa dipilihnya kali ini sama sekali bukan emas. Diam yang menyengsarakan rakyat. Benar-benar Diam itu Loyang !!
Akhirnya, hari pemilihan pun tiba. Rakyat datang berombongan ke tempat pencoblosan tetapi bukan karena gairah melainkan lebih karena merasa terpaksa daripada sesuatu yang buruk menimpa mereka dan keluarganya. Kalau biasanya orang ramai berceloteh menyambut pesta demokrasi seperti ini, disini tidak demikian. Penduduk diam lesu sambil menunggu gilirannya dipanggil untuk mencoblos.
Saat mencoblos pun menjadi waktu yang menyiksa. Meskipun bilik itu tertutup, tak terlihat dari luar, tetapi para pencoblos merasa seakan ada banyak mata melotot kepada mereka dengan pandangan mengancam kalau-kalau mereka tidak mencoblos Tamakir. Karena itu banyak yang berulang kali melihat kembali hasil coblosan mereka untuk memastikan mereka tidak ‘salah pilih’ sebelum melangkah keluar. Bahkan banyak diantara mereka yang tetap tidak yakin setelah keluar dari bilik neraka itu, apakah mereka sudah ‘benar’ atau keliru saat mencoblos tadi. Mereka menjadi linglung. Mereka yakin kalau sampai salah pilih maka orang-orang Tamakir akan tahu pasti merekalah pelakunya. Banyak yang tidak bisa tidur nyenyak sebelum kemenangan diraih oleh Tamakir. Ajaib tapi ironis, orang yang membencinya justru berharap dialah yang menjadi pemenang dan pemimpin mereka. Sungguh-sungguh dunia yang ganjil.
Tidak syak lagi, Tamakir dinyatakan sebagai pemenangnya dengan selisih suara yang mencolok. Banyak yang kecewa tetapi sekaligus juga merasa lega.
Meskipun hasil pemilihan membuat heran dan kecewa masyarakat banyak, mereka hanya bisa mengurut dada menelan kekecewaan, sambil membayangkan masa depan yang semakin suram. Korupsi tentu akan semakin merejalela demi mengumpulkan harta untuk menyuap lagi saat nanti mengejar jabatan yang lebih tinggi.
Tidak lama kemudian, Jaira benar-benar menjadi Adipati tetapi tidak di Megalung sebagaimana keinginannya semula. Tetapi bagaimana nasib Sukadu? Akankah ia diangkat menjadi Kepala Pamong Negeri Megalung? Itu akan diceritakan nanti.

(…….BERSAMBUNG……)

VIDEO INSPIRASIONAL
Sambil menanti lanjutan kisah ALDNP silakan cari inspirasi disini. Duduk santai, dan biarkan hati dan pikiran anda mengembara melintas batas yang selama ini mengungkung cakrawala anda.

Selamat Menikmati!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60