Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Demokrasi ala "Aturan Gerombolan"

Anak Langit Di Negeri Pelangi - aldnp #30

Namun sepeninggal Kudabringas keadaan berubah total. Para pemimpin Negeri saling berlomba memperkaya diri untuk bekal pemilihan berikutnya. Pemimpin aliran keyakinan pun berlomba mempengaruhi umatnya dengan cara-cara yang tidak semestinya untuk memusuhi pihak lain dengan menggunakan dalih-dalih keyakinan dan ancaman dunia akhirat. Pelan tetapi pasti dan semakin cepat, negeri ini merosot menjadi negeri penuh kekotoran. Bencana kelaparan, penyakit dan bencana alam mulai datang susul menyusul.
Para Pemimpin negeri silih berganti merampok kekayaan negeri. Mereka hanya memperhatikan dan melindungi kepentingan kelompok-kelompok yang mayoritas demi agar terpilih lagi nantinya. Kelompok-kelompok mayoritas yang tahu posisi tawar mereka seperti itu lalu bertindak semaunya, semena-mena terhadap kaum yang dianggap musuhnya atau yang bisa mengancam superioritasnya. Uang menjadi dewa baru yang mampu membeli kekuatan maupun kekuasaan. Para orang kaya bersekongkol dengan orang-orang yang mengatasnamakan kelompok mayoritas untuk membuat aturan sesuai selera dan keuntungan mereka semata.
Kaum yang minoritas hanya bisa diam dan mengalah sembari mengelus dada. Mereka sering menjadi bulan-bulanan kaum mayoritas yang tahu betul para pemimpin tak akan berani menentang mereka demi menjaga posisinya dan memenangkan pemilihan berikutnya.
“Begitulah tuan Mata Setan,” kata Jotiwo. “Yang terjadi kemudian adalah demokrasi yang mengarah kepada ‘aturan gerombolan’ yang dengan kekuasaannya menjadi kaki tangan para pencari kenikmatan untuk memuaskan hasrat serakah mereka dan sesaat sifatnya.”
“Selain itu,” sambung Paldrino.”Demokrasi yang ada sekarang ini mengarah pada aturan yang dikendalikan oleh kaum pandir yang memiliki kelihaian retorika, namun tidak memiliki pengetahuan yang benar.”
“Malah, demokrasi yang sekarang ini mengarah pada ketidaksepakatan dan pertikaian. Bukannya saling menerima dan melengkapai perbedaan. Pokoknya kalau beda itu musuh,” sambung Gadamuk tidak kalah antusiasnya
Andragi sebenarnya masih ingin bertanya banyak hal, tetapi mengingat hari sudah semakin larut malam dan mereka akan melanjutkan perjalanan panjang esok hari, ia memutuskan untuk sementara menyimpannya di dalam hati. Setelah itu mereka minta diri untuk tidur.
Pagi harinya setelah segala bekal yang disediakan tuan rumah di muat di punggung kuda dan mereka telah mengisi perut dengan sarapan yang cukup, berangkatlah rombongan Andragi menuju Poruteng. Namun untuk itu mereka masih harus melalui beberapa wilayah kadipaten. Kadipaten pertama yang mereka tuju adalah Rajapurwa dimana desa Bental termasuk di dalamnya.
Perjalanannya kesana sama sekali tidak mengalami hambatan yang berarti. Mereka tiba di ibukota kadipaten yang cukup ramai menjelang sore hari. Paldrino mengusulkan mereka menginap di salah satu rumah makan, yang biasanya menyediakan juga kamar sewaan bagi para pengembara yang bermalam. Mereka mendapatkan sebuah kamar yang luas cukup untuk mereka semua, namun harus tidur dilantai. Tuan rumah hanya menyediakan tikar dan kain sebagai sebagai selimutnya serta bantal. Setelah merapikan barang-barang dan bebersih diri, mereka lalu makan di ruang rumah makan.
“Silakan, tuan-tuan. Kami menyediakan berbagai makanan. Apa yang tuan-tuan pesan?” tanya pelayan.
“Bawakan makan malam lengkap yang cukup bagi kami semua,” Jawab Paldrino.
Pelayan itu segera masuk ke dalam mempersiapkan pesanan mereka. Beberapa saat kemudian ia telah keluar dengan membawa nasi, sayur dan berbagai lauk pauk dan menyajikan kepada tamu-tamunya.
“Tuan-tuan tentu datang untuk menyaksikan perayaan pesta bunga disini. Sudah banyak tamu yang datang ke daerah ini untuk melihat pesta bunga kami,” kata pelayan itu mencoba menyapa ramah.
“Yah, begitulah,” jawab Paldrino. “Kami sudah mendengar keistimewaan daerah ini dengan perayaan pesta bungannya, tetapi ini kali yang pertama kami berkesempatan untuk melihatnya.”
“Oh, kalau begitu saya perlu memberitahu supaya tuan-tuan dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Besok seluruh rumah penduduk akan dihiasi dengan bunga dan pada tempat-tempat tertentu sering ada atraksi yang menarik. Tetapi pusat perayaan hari bunga tetap diadakan di alun-alun depan kadipaten. Disana terdapat banyak sekali tontonan yang menarik serta berbagai pameran dan hiasan rangkaian bunga. Tuan-tuan saya sarankan langsung menuju ke alun-alun. Jangan tertahan melihat tontonan di tempat-tempat lain, namti ketinggalan melihat yang utama,” saran pelayan itu.


“Baiklah, dan terima kasih atas pemberitahuannya,” jawab Paldrino.
Sebenarnya mereka tidak mempunyai niatan untuk melihat perayaan itu, namun Paldrino berpikir ada baiknya Andragi melihatnya untuk mulai mengenali berbagai adat negeri Klapa Getir. Jadi, mereka memutuskan untuk menginap dua malam di tempat itu sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
Pagi hari esoknya, mereka sarapan lebih awal dan bersiap menuju alun-alun kadipaten. Hari itu memang tampak luar biasa karena sepagi itu jalanan telah ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang maupun karena setiap penghuni rumah telah sibuk menghiasi rumah mereka masing-masing dengan rangkaian bunga yang dibuat sesuai pola tertentu. Rombongan Andragi segera berangkat menuju alun-alun. Mereka khawatir tidak mendapat tempat yang bagus karena tampaknya akan banyak pengunjung yang memenuhinya.
Mereka tiba disana saat pengunjung sudah ramai tetapi belum begitu berjubel. Hati mereka gembira melihat suasana yang meriah itu, apalagi sepanjang perjalanan tadi mereka melalui rumah-rumah yang tampak asri dihiasi rangkaian bunga-bunga indah. Berbagai adegan tontonan pembukaan sudah mulai digelar sambil menunggu pembukaan yang akan dilakukan oleh Adipati Rajapurwa. Mereka berkeliling dari satu stan ke stan yang lainnya hingga tiba di arena utama tempat Adipati akan membuka secara resmi. Memang, sejenak kemudian Adipati Rajapurwa beserta petinggi utusan dari pemerintah pusat, tiba untuk membukanya. Dibelakangnya menyusul istrinya dan istri pejabat itu, lalu keduanya duduk di kursi yang telah disediakan.
“Saudara-saudara sekalian. Panen kita tahun ini cukup baik dan keadaan hidup kita juga terjaga dengan baik. Wilayah kita aman tenteram, tidak ada begal dan perampok, apalagi pemberontak,” pidatonya.
“Lihat, Anak Langit. betapa munafiknya Adipati itu,” bisik Paldrino. “Jelas-jelas istrinya sendiri dtangkap perampok, masih bilang tidak ada perampok. Ck..ck.. bukan main!”
Andragi mengangguk tersenyum.
“Saudara-saudara kini tiba saatnya kita rayakan pesta bunga tahunan kita. Dengan mengucapkan puji syukur kepada Dewa Maha Satu, dengan ini pesta bunga saya buka secara resmi!” kata Adipati sambil menuju tempat gong dan menabuhnya.
“Goooong...Gooooong....Gooong,,!!”
“Horeee!!” sambut penonton di alun-alun itu bergemuruh.
Tontonan-demi tontonan dipertunjukkan oleh masing-masing daerah dengan kekhasan mereka, hingga tiba pada suatu pertunjukan lawak oleh pelawak terkenal di Kadipaten itu. Penonton dibuatnya terpingkal-pingkal dengan berbagai banyolan dan gerak geriknya. Tak terkecuali Andragi. Ia begitu larut dalam kelucuan pelawak itu hingga tanpa sadar cara tertawanya yang berbeda dengan orang setempat mengundang perhatian istri Adipati itu.
Sedang Andragi terpingkal-pingkal itu, istri Adipati membisikkan sesuatu kepada suaminya, dan karena bisikan itu gegerlah Kadipaten Rajapurwa. Darah tertumpah dan kebencian makin mejadi-jadi.
Anda ingin tahu apa yang dibisikkan itu? Ambil napas dulu!
Istri Adipati itu menoleh kepada suaminya, menyentuh tangannya lalu menyorongkan mukanya untuk berbisik.
“Pangeran lihat orang muda yang tertawanya aneh di ujung sebelah kanan itu?” bisik wanita itu.
“Ya..ya. Dari tadi saya sudah melihatnya. Tampaknya ia orang dari daerah jauh. Gerak-geriknya tidak seperti orang sini. Memangnya kenapa?” tanya suaminya.
“Pangeran jangan kaget dan jangan bergerak yang mencurigakan. Dia itu salah satu kepala perampok Gunung Kembar yang menangkap saya. Untung saya bisa mengelabui mereka dan membebaskan diri. Cepat pangeran suruh tangkap dan hukum dia, lalu minta penghargaan dan hadiah dari pemerintah pusat. Mumpung ada utusan dari pusat datang kesini,” gosok wanita itu.
“Hmm, kau istri yang pintar. Bagus, kalau begitu!” kata Adipati.
Dengan tidak mencolok, ia lalu menoleh ke belakang dimana Kepala Pasukan Kadipaten berdiri mengawalnya. Ia memerintahkan Kepala Pasukan itu, Tumenggung Setiaka namanya, untuk menangkap pemuda yang tertawanya aneh itu. Setiaka segera mundur dan mengumpulkan pasukannya.
Tiba-tiba saja dalam kerumunan orang banyak di sekitar Andragi telah bermunculan para prajurit yang merangsek maju. Loyo dan Brewok yang sejak semula diam-diam ditugasi oleh Paldrino mengamati keadaan, melihat ancaman yang akan terjadi pada Anak Langit. Mereka berupaya merintangi gerak para prajurit itu dengan berpura-pura terjatuh atau tertabrak sambil berteriak kesakitan atau mengumpat agar menarik perhatian Andragi dan Paldrino.
Keributan yang terjadi di belakangnya membuat Paldrino segera sadar akan adanya bahaya dan menggamit Andragi yang segera menoleh ke belakang. Namun, belum sempat mereka menyelinap dikerumunan massa untuk melarikan diri, tiba-tiba istri Adipati bangkit dari kursinya dan berteriak sambil menunjuk ke arah Andragi.
“Tangkap orang itu! Dia kepala perampok Gunung Kembar!” teriaknya lantang.
Orang-orangpun langsung menoleh ke arah yang ditunjuk wanita itu. Para prajurit pun segera merangsek mengepungnya. Merasa tidak bisa melarikan diri lagi Andragi melepaskan tas pinggangnya dan memberikan kepada Paldrino.
“Selamatkan tas saya ini pak Paldrino, dan selamatkan diri anda,” bisiknya.
Belum sempat Paldrino bereaksi para prajurit telah mencekal tangan Andragi dan menelikungnya. Mereka menyeretnya pergi dari keramaian itu. Paldrino, Loyo dan Brewok hanya bisa mengikuti dari jauh. Mereka tahu Anak Langit dibawa ke markas pasukan Setiaka dan tentu akan disiksa untuk mengakui apa yang dituduhkan oleh perempuan itu yaitu sebagai kepala perampok Gunung Kembar. Mereka memutuskan untuk segera kembali ke penginapan dan menyingkir dari sana sebelum terlambat. Setelah itu baru mencari jalan membebaskan Anak Langit.
Baru saja mereka sampai di penginapan itu, si pelayan mengatakan ada orang yang telah datang mencari mereka.
“Celaka, pikir Paldrino. Rupanya mereka telah tahu kita menginap disini,” katanya kepada Loyo dan Brewok.
“Pak Wedana selamatkan anak istri Bapak, dikawal sobat Loyo. Biar saya yang menghadapi mereka,” kata Brewok.
Ia segera menghunus pedangnya dan masuk ke rumah makan itu, diikuti oleh Paldrino dan Loyo yang akan langsung menuju kamar mereka untuk membawa pergi anak istrinya. Sementara itu si pelayan sudah lari masuk ke dapur dan menyembunyikan diri ketakutan.



Demokrasi ala "Aturan Gerombolan" (aldnp 30)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60