Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Air Susu Dibalas Dengan Air Tuba (aldnp 32)

Anak Langit Di Negeri Pelangi - aldnp #32
Sebelum terang tanah mereka semua sudah bangun dan bersiap. Semua menggunakan pakaian seperti penduduk biasa dan menyelipkan senjata masing-masing dibalik pakaian. Hanya Gadamuk yang memerlukan seorang anak buah untuk menyembunyikan gadanya di dalam keranjang dagangan. Para anak buah Gunung Kembar telah telah dibagi-bagi sesuai usul Jotiwo.
Setelah sarapan yang dilakukan dengan cepat, mereka segera berangkat secara terpisah mengikuti ketua rombogan masing-masing. Hanya Loyo yang berjalan seorang diri sambil membawa keranjang kecil berisi makanan. Saat mereka memasuki desa-desa di sekitar pusat kota Rajapurwa, dengan mudah mereka berbaur bersama penduduk yang berbondong-bondong menuju pendopo kadipaten tempat Anak Langit akan diadili. Bahkan ketika melewati gerbang pusat kota pun mereka sama sekali tidak diperiksa secara ketat. Para prajurit yang menjaga gerbang hanya melihat dari samping gerbang. Mungkin karena banyak orang yang berbondong memasuki gerbang hanya untuk melihat pengadilan membuat mereka berpikir tidak ada gunanya bersusah payah memeriksa para petani itu.
Sekitar pukul 10.00 sidang pengadilan dibuka oleh Adipati Rajapurwa yang lalu menyerahkan kepada Hakim Ketua Kadipaten untuk memimpin jalannya pengadilan. Penduduk telah berjubel di halaman pendopo itu.
“Saudara-saudara, jika hari ini ada yang akan mengajukan tuntutan segera sampaikan, tetapi jika tidak ada sidang ini akan segera ditutup,” kata hakim  itu.
Setiaka maju kehadapan hakim.
“Tuan Hakim, saya menangkap seorang yang dituduh sebagai kepala perampok Gunung Kembar. Ini dia orangnya,” katanya sambil menunjuk Andragi yang dikawal oleh dua orang prajurit dan tangannya terikat ke belakang.
Kedua prajurit itu lalu menyeretnya ke depan. Di hadapan hakim kadipaten dan seluruh pengunjung ia dipaksa berlutut. Salah seorang prajurit mendorongnya dengan keras hingga jatuh mencium lantai. Andragi mencoba mengangkat tubuhnya kembali ke posisi berlutut. Darah tampak meleleh keluar dari hidungnya. Ia lalu menyusut darah itu dengan bagian baju di bahunya.
“Baik. Siapakah yang menuntutnya?” tanya hakim
“Saya, tuan Hakim,” jawab istri Adipati sambil maju ke tengah.
“Ooohhh!!” seru pengunjung tertahan.
Baru pertama kali ini mereka melihat istri pejabat tinggi bahkan tertinggi di wilayah mereka berurusan dengan perkara besar seperti ini. Biasanya mereka hanya bersenang-senang di istananya.
“Orang ini adalah kepala perampok Gunung Kembar yang merampok dan menculik saya tiga hari yang lalu. Namanya Mata Setan,” kata istri Adipati berapi-api.
“Ooohhh!!” seru pengunjung mendengar nama yang seram itu.
“Siapakah nama kamu?” tanya hakim.
“Saya tidak punya nama. Orang memanggil saya dengan Mata Setan,” jawab Andragi.
“Apakah kamu kepala perampok Gunung Kembar?” tanya hakim lagi.
“Nyonya itu salah sangka. Saya memang berada di markas perampok Gunung Kembar saat nyonya itu ditangkap mereka. Tetapi saya bukan kepala perampok. Saya kebetulan mampir karena kenal dengan salah satu dari mereka sejak kecil,” jawab Andragi.
“Bohooonng!! Dia berbohong tuan hakim! Dia yang akan memperkosa saya waktu itu. Karena saya pura-pura mau ia jadi lengah dan saya bisa melarikan diri!” teriak istri Adipati itu lantang.





Diantara para pengunjung yang berjubel di halaman pendopo itu orang-orang Gunung Kembar telah pula berbaur rapi, tak kentara sama sekali. Gadamuk, Bedul Brewok dan Jotiwo merasa muak dan marah melihat tingkah istri Adipati itu. Tangan Gadamuk bahkan sudah dikepal-kepalkan. Ingin rasanya ia meraih gadanya dan menghancurkan mulut perempuan itu. Jotiwo yang tahu adat Gadamuk memegang tangannya agar tidak berbuat ceroboh.


“Nyonya, diantara kita tidak saling kenal dan bermusuhan. Kenapa nyonya berbuat jahat kepada saya? Bukankah saya yang meminta para kepala perampok itu untuk membebaskan nyonya karena nyonya istri seorang Adipati dan sedang dalam perjalanan suci mendoakan arwah leluhur nyonya?” kata Andragi.
“Bohong!! Dasar perampok, tukang bohong! Tuan hakim, jangan percaya omongan seorang perampok yang sudah tertangkap. Kalau tidak karena nafsu bejatnya, saya pasti masih ditahan di sarang mereka atau sudah dibunuh. Saya minta, hukum orang ini seberat-beratnya!” cerocos wanita itu.

Dalam hati Andragi merasa menyesal melepaskan wanita ini. Bukannya berterimakasih malah petaka yang ditimpakan kepadanya. Benar-benar air susu dibalas dengan air tuba.
“Karena nyonya ini adalah saksinya sekaligus korban, dan peristiwa perampokan itu benar-benar telah terjadi, maka orang ini dinyatakan bersalah! Hukum dia dengan seratus cambuk dan penjarakan dia di penjara Kadipaten. Bila dalam sepekan tidak ada orang yang bersaksi membelanya, ia akan dijatuhi hukuman mati!” kata hakim itu memutuskan.
“Ooohh!! terdengar desahan rendah dari pengunjung.

Biasanya keputusan berat terhadap seorang penjahat selalu disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari pengunjung, tetapi kali ini para pengunjung tampak bersimpati kepada Andragi. Mungkin karena melihat tingkah istri Adipati yang terkesan berlebihan. Ada suasana batin yang mereka rasakan bahwa perempuan itu tidak jujur. Tingkahnya yang berlebihan itu memuakkan dan membat perut mereka mulas dan mulut mereka mual.

“Bila tidak ada lagi tuntutan, maka sidang hari ini saya tutup!” lanjut Adipati menutup sidang itu.

Para pengunjung bubar dengan hati yang tidak menentu. Mereka tidak tahu harus memihak siapa, tetapi hati kecil mereka mengatakan pemuda itu tidak bersalah. Mereka hanya bisa diam memendam perasaan masing-masing.

Sementara itu, Andragi pun lalu diseret ke penjara Kadipaten. Kepala penjara segera memerintahkan anak buahnya mempersiapkan hukuman cambuk yang harus dijalani Andragi sesuai keputusan hakim. Andragi lalu dibawa ke ruang khusus penyiksaan yang pengap dan berbau amis.

“He, kepala perampok! Kalau kau punya uang, cepat serahkan padaku dan akan kuringankan hukumanmu!” bentak kepala penjara.
“Saya bukan kepala perampok dan saya tidak mempunyai uang,” jawab Andragi.
“Kurang ajar! Berani kau mejawab kepadaku ya!”
“Plakk!! tangannya menampar pipi Andragi.
Anak Langit itu jatuh terjengkang. Hidungnya mengeluarkan darah dan matanya berkunang-kunang.
“Sipir! Laksanakan tugasmu. Cambuk dia seratus kali dengan sekuat tenaga!” perintah kepala penjara itu.

Andragi lalu di seret ke sebuah tiang di tengah ruang itu. Badannya menghadap tiang, baju dan sarungnya dilepas. Kedua tangannya diikat diatas kepalanya pada sebuah gelang besi di tiang itu sedangkan kedua kakinya mengangkang dan diikat pada dua gelang yang menancap kuat di lantai.

Dua orang sipir telah bersiap dikiri dan kanannya. Seorang sebagai pemukul dan yang lain sebagai penghitung. Mereka akan bergantian tugas jika si pemukul lelah. Tanpa basa-basi si pemukul mengambil cambuk dari tempatnya dan bersiap.

“Satu!” kata penghitung.
“Ctarr!” bunyi cambuk menghajar punggung Andragi yang segera berbekas merah, disambut teriakan kesakitan, “Ouchh!”
“Dua!”, “Ctarr!”, Aaach..!” terlihat bekas yang kedua.

Begitu seterusnya. Pada hitungan ke sepuluh darah sudah mulai mengucur dari kulit punggung yang terkelupas.

Pada hitungan ke sebelas, pemukul itu mengalihkan sasarannya ke arah betis.
“Sebelas!”, Ctarr!”, aaachhh!” teriak Andragi kaget dan kesakitan.
Tadinya ia sudah mulai terbiasa terasa sakit di punggungnya, tetapi kali ini tiba-tiba yang dihajar kakinya.

Pada hitungan ke dua puluh sipir itu mulai merubah-rubah sasaran. Ini membuat Andragi tidak tahan. Pada cambukan yang ke dua puluh empat ia terkulai pingsan.

“Siram dia dengan air dingin!” perintah Kepala Penjara.

Si penghitung segera berlari mengambil air dan menyiramkan ke tubuh Andragi. Ia tampak menggeliat siuman.

“Lanjutkan!” perintah Kepala Penjara.

Kini si pemukul bergantian dengan si penghitung. Dengan tenaga yang masih segar, dihajarnya punggung Andragi yang sudah terkelupas habis kulitnya. Warna punggungnya memerah dan tampak seperti bubur. Pada hitungan ke tiga puluh dua ia jatuh pingsan lagi. Disiram lagi. Dan dicambuk lagi. Saking sakitnya, ia bahkan sudah tidak bisa merasakan pukulan yang datang berikutnya. Pada pukulan yang ke empat puluh delapan, untuk ketiga kalinya ia pingsan lagi. Disiram lagi. Dan...

“Cukup! Untuk sementara cukup dulu! perintah Kepala Penjara.
“Kita tak boleh membiarkan dia mati sebelum keputusan hukumannya dijatuhkan. Beri dia kesempatan mendapatkan uang untuk kita, sebelum kita lanjutkan mencambuknya!” lanjut Kepala Penjara itu.

Andragi lalu diseret dan dilemparkan ke dalam selnya. Ia tak bisa bangun, tubuhnya teronggok seperti karung kempes. Lama ia tergeletak begitu menderita perih yang tak terkatakan. Hingga menjelang malam baru ia merasa bisa bergerak untuk merangkak menuju dipan kayu. Pelan-pelan kesadarannya mulai membaik, meski rasa perih seakan terus mengerogoti dagingnya.

Sementara itu ...

Di luar penjara Loyo dengan tenang berjalan melintasi halaman penjara dan menghampiri penjaga di posnya.
“Selamat malam pak,” sapa Loyo.
“He, selamat malam. Kamu siapa, dan perlu apa?!” selidik penjaga itu.

“Saya hanya orang suruhan yang diminta membawakan oleh-oleh untuk kepala penjara dan para sipir disini,” jawab Loyo sambil memperlihatkan kepingan uang perak dari balik bajunya.
“Saya hanya mau memberi makanan untuk orang yang baru dihukum tadi,” lanjut Loyo.

Melihat kemilau uang itu, mata si penjaga menjadi hijau.

“Mari masuk, kita bicara di dalam,” katanya dengan nada berubah ramah.
Loyo lalu masuk ke ruang dalam.
“Ah, tapi sayang saudara datang terlambat. Hukuman cambuk telah dilakukan tadi. Kalau sebelumnya hukumannya akan menjadi lebih ringan, tidak perlu sekuat tenaga mencambuknya. Tapi Pak Kepala Penjara baik hati dan baru setengah hukuman yang diberikan. Keadaannya tidak terlalu parah,” kata penjaga itu menghibur.
“Ada berapa penjaga malam ini yang harus saya berikan oleh-oleh ini?” tanya Loyo menyelidik.





Air Susu Dibalas Dengan Air Tuba (aldnp 32)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60