Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Prajurit Sejati Tidak kotor oleh Politik (aldnp 33)

Anak Langit Di Negeri Pelangi - aldnp #33



“Kami ada tiga orang yang menjaga sel ini. Tapi biar saya saja yang memberikan uang jatah mereka,” katanya rakus.
Ia berencana mengutip sebagian jatah temannya.
“Oh, tentu saja. Ini uangnya,” kata Loyo sambil mengangsurkan segenggam keping perak.

Penjaga itu segera meraihnya dan memasukkannya ke balik bajunya.

“Nah, sekarang saya ingin memberikan sebagian makan malam bagi semuanya. Tolong panggil yang lain biar kita bisa makan beramai-ramai,” kata Loyo dengan lebih berkharisma.

Lega karena uang sudah berada di kantongnya, penjaga itu tidak waspada dan menuruti permintaan Loyo. Ia segera berlalu memanggil temannya. Sejenak kemudian mereka bertiga datang. Loyo sudah menyediakan makanan untuk mereka berempat dan tentu saja dihadapannya makanan yang tidak diberi obat bius.

Setelah memberi salam, Loyo lalu mengajak mereka makan bersama-sama. Ia dengan sengaja menunjukkan makannya dengan lahap. Para penjaga itu juga segera makan dengan lahapnya, selain rakus juga karena tidak ingin berlama-lama meninggalkan posnya.

Belum sampai habis makanan mereka, para penjaga itu mulai merasa lemas dan segera jatuh tertidur sambil mulut penuh makanan. Loyo segera mengambil kunci sel yang tergantung di dinding dan bergegas menuju sel Andragi yang gelap.

“Sobat Mata Setan, anda dimana? Saya Loyo,” katanya setengah berbisik.

Tetapi tak ada jawaban.
Loyo lalu membuka sel itu dan masuk. Dinyalakan korek gas Andragi (ia pernah diajari tentang benda itu, kan?) dan didekatkannya ke tubuh yang tergolek di dipan. Benar, itu Anak Langit. Dengan hati-hati dibangunkannya.

“Siapakah ini?” tanya Andragi lemah setelah terbangun.
“Anak Langit, saya Loyo. Mari kita segera keluar dari sini,” bisik Loyo.
“Oh, sobat Loyo. Terimakasih,” kata Andragi lemah.
“Mari sobat, saya akan menggendongmu.”

Tanpa menunggu jawaban Andragi, Loyo langsung merangkul dan menggendongnya. Andragi hanya bisa memeluk lemas di punggungnya. Dengan hati-hati ia melangkah keluar lorong penjara itu, melewati para penjaga yang masih teler disana untuk keluar menyeberangi halaman penjara. Namun sebelum kakinya melangkah di halaman itu ia mendengar derap langkah kuda di kejauhan. Itu pasti patroli Pamong Negeri atau pasukan keamanan pikirnya. Pelan-pelan diletakkannya Andragi di lantai dan ia berdiri tegak di pos penjaga, berlagak sebagai penjaga penjara.

Derap kaki kuda itu terdengar semakin dekat. Andragi yang sudah mulai pulih ingatannya, sadar akan bahaya yang dihadapi.

“Apa sobat Loyo bawa benda saya?”
“Saya bawa mata setan, Anak Langit,” jawabnya.
“Kalau dipencet bagian yang menonjol di batangnya akan keluar cahaya itu,” kata Andragi mencoba menjelaskan.

Loyo mengambil senter itu dan meraba batangnya. Benar ada tonjolan di tengahnya. Andragi menyuruhnya menempelkan rapat-rapat ujung senter itu dengan telapak tangan kiringa dan tangan kanan memencet tombolnya. Loyo milihat ada cahaya dibalik telapaknya. Ia berhasil menyalakannya.

Pada saat itu sampailah patroli itu di depan penjara. Dua orang anak buah Setiaka rupanya.

“Hei, bung! Penjara aman?!” teriak seorang prajurit.
“Aman, bung! Silakan mampir,” jawab Loyo menirukan gaya seorang penjaga, basa-basi.
“Baik, kami akan mampir memeriksanya,” jawab seorang prajurit dari atas kudanya.

Wah celaka, pikir Loyo. Mereka benar-benar akan mampir.
Ia lalu bersiap di balik tembok pos jaga. Kedua prajurit itu masuk dan turun dari kuda mereka, lalu menambatkan tunggangan mereka itu di tempat yang tersedia. Tanpa ragu mereka melangkah memasuki pos jaga. Loyo menunggu mereka hingga benar-benar dekat dan dengan tiba-tiba menyorotkan sinar senter ke wajah seorang demi seorang. Keduanya terperanjat bukan kepalang.

“Waaa... Set.. set..an!” gagap keduanya.

Sebelum mereka sempat bereaksi, Loyo segera mengayunkan pukulan kepada keduanya secara beruntun. Kedua prajurit itu langsung jatuh pingsan, sebagian karena rasa takut yang bukan main.

“Mari Anak Langit. Kita bisa menggunakan kuda mereka untuk pergi dari sini,” kata Loyo.

Diangkatnya Andragi dan dinaikkan ke punggung seekor kuda. Ia juga naik dikuda yang sama. Andragi diminta memeluknya dari belakang agar tidak jatuh. Perlahan-lahan ia menjalankan kuda itu sambil menuntun yang seekor lagi. Dipilihnya jalan yang melalui sela-sela diantara rumah penduduk yang siang tadi telah ditelitinya, agar tidak berpapasan dengan prajurit. Para penduduk biasanya memilih masuk ke rumah bila melihat ada prajurit berkuda di sekitar rumah mereka.

Namun, belum sampai ke gerbang kota, ia harus menghentikan kudanya karena mendengar dentingan senjata beradu disekitar gerbang itu. Apakah yang terjadi disana? Ia lalu menuntun kedua kuda itu ke tempat yang tersembunyi di balik rumpun pohon pisang, dan menunggu disana.

Rupanya sewaktu Loyo memasuki penjara tadi, Jotiwo tiba di gerbang kota dengan menunggang kuda. Saat ditanya oleh para penjaga gerbang ia dengan lantang mengatakan akan menemui kawannya, Tumenggung Setiaka.

“Kalau begitu, saudara silakan tunggu disini. Kami akan melapor dulu,” kata seorang dari penjaga disana.
“Ya, sebaiknya begitu. Laporkan, saya Jotiwo tidak sudi masuk ke wilayah kekuasaanya!” tantang Jotiwo.

Melihat gelagat yang kurang baik itu, dua orang penjaga segera menggebras kuda mereka menuju markas mereka tempat Setiaka berada. Markas itu tidak jauh dari kediaman Adipati. Itulah sebabnya Jotiwo memancingnya ke gerbang kota.

“Komandan, ada prajurit gerbang kota yang mau melapor. Penting katanya,” lapor petugas jaga markas.

Setiaka menyuruhnya segera membawa prajurit itu ke dalam.

“Lapor, komandan. Ada orang bernama Jotiwo ingin bertemu komandan tetapi tidak sudi masuk ke wilayah kekuasaan komandan.”
“Ada berapa orang bersamanya? Apa lagi katanya!”
“Hanya dia sendiri, komandan. Dan hanya itu yang dikatakannya. Tetapi gelagatnya akan menantang komandan bertempur.”
“Hmm, baiklah. Segera kamu kembali kesana. Katakan saya segera datang!” perintah Setiaka.
“Siap, laksanakan!” prajurit itu langsung mundur dan kembali ke posnya.

Dalam hati Setiaka bertanya-tanya apa maksud si pengkhianat Jotiwo datang menemuinya. Gelagatnyapun buruk. Ia menduga tentu ada hubungannya dengan kepala perampok yang ditangkapnya kemarin. Ia hampir yakin bahwa Jotiwo tentu juga menjadi salah satu pemimpin perampok itu. Dari para telik sandinya ia hanya tahu kalau perampok Gunung Kembar dipimpin oleh Gadamuk. Mungkinkah itu orang yang sama dengan Jotiwo?

Ia lalu mengumpulkan sebagian besar prajuritnya yang ada di markas, dan bersiap menuju gerbang kota. Meski tahu kalau Jotiwo hanya seorang diri, ia tidak ingin mengambil resiko. Bagaimanapun, Jotiwo adalah bekas Pelatih Paskhu yang terkenal itu, dan tentu memiliki kepandaian tempur yang tinggi. Belum tentu ia dapat mengalahkan si tangan panjang ini.

Dengan membawa pasukan berkuda sebanyak lima puluh orang serta seratus infanri mereka berderap menuju gerbang kota. Dari jauh tampak bayangan Jotiwo diatas kudanya. Tubuhnya yang jangkung tampak menjulang ditimpa sinar bulan.

“Hahahaa...Tak kusangka seorang Setiaka komandan pasukan Kadipaten begitu penakut sehingga perlu membawa pasukan tempur untuk menemui seorang kawan lama,” sambut Jotiwo.

“Apa maumu Jotiwo?” jawab Setiaka tak menggubris ejekan itu.
“Hahaha... kau tahu sejak dulu aku benci ketidak-adilan. Aku kesini ingin kau membebaskan pemuda yang tadi dituduh sebagai kepala perampok Gunung Kembar,” jawab Jotiwo enteng.
“Apa hakmu seenaknya memintaku begitu? Memangnya kau tahu siapa pemuda itu?”
“Tentu saja. Dia kawanku, kawan baik sekali. Dan dia bukan perampok, apalagi kepala perampok. Kau tahu kan siapa kepala perampok Gunung Kembar?” jawab Jotiwo balik bertanya.
“Aku tidak peduli siapa pemuda itu. Pengadilan telah memutuskan dia bersalah dan harus dipenjara. Sebagai prajurit, aku setia menjalankan perintah, mengabdi kepada ‘satu untuk semua dan semua untuk satu’. Tak mungkin dia kulepaskan begitu saja!” jawab Setiaka.
“Haahaha.... Pakai nuranimu kawan. Kau keliru! Kau mengabdi pada ‘Satu untuk sekelompok orang’, bukan untuk semua. Sedangkan rakyat bekerja demi ‘semua untuk satu’ tetapi dibelokkan untuk sekelompok orang juga,” sergah Jotiwo.

Dalam hati Setiaka semakin yakin kalau Jotiwo adalah Gadamuk, pemimpin perampok Gunung Kembar.

“Terserah apa katamu. Dasar pengkhianat! Aku akan menangkapmu sebagai kepala perampok,” kata Setiaka bersiap menyerang.
“Tunggu dulu! Kalau aku kau tangkap sebagai kepala perampok, lalu siapakah pemuda yang kau tangkap itu? Kau salah tangkap bukan? Dimana reputasimu sebagai kepala pasukan yang memiliki telik sandi segala? Mau kau taruh dimana mukamu, ha!!?” sergah Jotiwo.

Kemarahan Setiaka sudah sampai di ubun-ubunnya. Ia mengangkat tangannya untuk memberi aba-aba para prajuritnya menyerang.

“Eiit!! Tunggu dulu! Aku belum selesai! Kau boleh menangkapku setelah ini. Aku kan cuma sendiri. Tak kan susah bagi pasukanmu menangkap ku.”
“Jadi apa maumu, pengkhianat?” bentak Setiaka gusar.

“Sebagai seorang terdidik dan pandai. Kau tak beda dengan seekor anjing penjaga yang menuruti segala perintah majikanmu, bahkan perintah dari seorang pelacurpun kau turuti, meski harus meludahi ibumu sendiri,” ledek Jotiwo.
“Setan alas! Anak-anak serang anjing ini! Cincang dia!” perintah Setiaka.
“Brenti!!” bentak Jotiwo berwibawa. “Prajurit, kalian lihat! Betapa pengecutnya komandan kalian! Kalian tentu ingin tahu seberapa tinggi ilmunya, supaya kalian bisa hormati dia. Karena itu aku beri kesempatan padamu menunjukkan kebolehanmu Setiaka, kalau kau punya,” pancing Jotiwo.
“Kurang ajar! Mari kupatahkan lehermu!” kata Setiaka jengkel.

Setiaka langsung menggebrak kudanya menyerbu dengan pedang terhunus. Jotiwo menyongsongnya dengan keris panjangnya yang aneh itu. Mereka bertempur dengan sengitnya hingga tiga puluh jurus tanpa terlihat siapa yang akan segera kalah. Jotiwo dengan kelebihan panjang tangannya sangat sulit didekati oleh pedang Setiaka, bahkan tak jarang Setiaka harus berkelit mundur untuk menghindari ujung kerisnya. Namun kemarahan yang membakarnya membuatnya tetap bersemangat mencoba masuk, menerobos pertahanan Jotiwo.
Prajurit Sejati Tidak Kotor Oleh Politik (aldnp 33)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60