Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Rencana Pembebasan Anak Langit (aldnp 31)

Anak Langit Di Negeri Pelangi - aldnp #31





Dengan mata yang nyalang Brewok melompat dan menyapu isi ruangan itu. Di dalam ada dua orang yang duduk berhadapan menghadapi meja berisi makanan. Melihat kedatangan Brewok yang mengancam itu, mereka segera berdiri dan memberi hormat.
“Pak Brewok, kami anak buah pak Jotiwo dan pak Gadamuk. Mereka menyuruh kami segera menemui pak Paldrino dan kawan-kawan disini, jika sesuatu terjadi dengan tuan Mata Setan,” kata salah seorang.
Paldrino segera menghentikan langkahnya dan menghampiri kedua orang itu. Ia tahu kedua orang itu berkata jujur.
“Mari kita bicara di dalam kamar,” ajaknya.
Kedua orang itu mengikutinya dan dibelakang mereka mengiring Loyo dan Brewok. Di dalam kamar itu mereka segera memberitahu bahwa mereka memang ditugaskan mengikuti rombongan tuan Mata Setan sampai meninggalkan Kadipaten Rajapurwa karena Jotiwo tidak percaya kepada wanita istri Adipati itu. Ia khawatir kalau tuan Mata Setan terlihat oleh wanita itu saat pesta bunga dan menyuruh menangkapnya, bukannya berterimakasih karena telah membebaskan dirinya. Dan sekarang itulah yang benar-benar terjadi.
“Jadi, pak Wedana dan kawan-kawan diminta segera menyingkir dari kota ini sebelum terlambat,” kata anak buah Jotiwo dan Gadamuk.
“Kemana kami harus pergi?” tanya Paldrino.
“Di luar kota ini kami memiliki pos untuk memata-matai. Disana telah menunggu pak Jotiwo dan pak Gadamuk. Mereka akan merundingkan bagaimana membebaskan tuan Mata Setan,” jawab seorang dari mereka.
“Baiklah kita segera kesana,” kata Paldrino.
Mereka bergegas mengumpulkan bawaan mereka, membayar ongkos penginapan dan segera pergi dari sana. Pesta bunga yang meriah itu membuat kepergian mereka tidak menarik perhatian karena banyak orang yang berlalu lalang di jalan. Mereka pun dengan cepat bisa ke luar dari dalam kota tanpa menarik perhatian.
Setiba di luar tembok kota, kedua orang itu menuju sebuah tempat tersembunyi, dan dari sana membawa enam ekor kuda. Dengan naik kuda-kuda itu, sendiri atau berboncengan, mereka melaju cepat menuju tepi hutan tempat pos mata-mata berada. Benarlah, setiba disana mereka telah ditunggu oleh Jotiwo dan Gadamuk.
“Silakan Pak Paldrino dan kawan-kawan. Kita langsung saja bicara. Pertama-tama saya usulkan agar anak istri pak Wedana kita ungsikan ke markas Gunung Kembar biar mereka bisa beristirahat dengan nyaman, lalu kita akan berunding disini. Bagaimana, pak?” tanya Jotiwo.
“Oh, terimakasih Pak Jotiwo. Saya berterimakasih sekali kalau begitu,” jawab Paldrino.
Gadamuk lalu memerintahkan beberapa orang anak buahnya mengantar istri dan anak-anak Paldrino, beserta pembantu Paldrino menuju markas Gunung Kembar dan menyuruh mereka membawa seratus lima puluh orang anak buahnya kesini. Para prajurit Gunung Kembar segera berangkat dengan menunggang kuda. Selepas itu Jotiwo, Gadamuk, Paldrino dan kawan-kawan lalu berunding mencari jalan membebaskan tuan Mata Setan.
Sementara mereka berunding, kita lihat apa yang terjadi dengan Andragi.
Para prajurit menggiringnya ke hadapan Setiaka dan dari sana membawanya ke markas pasukan keamanan, dengan tangan terikat ke belakang.
“Siapa namamu heh!” tanya Setiaka.
Andraldri menakar sikap kepala pasukan yang menanyainya ini. Tampaknyaia seorang prajurit sejati yang menjalankan tugasnya secara profesional, tidak dikotori degan intrik-intrik politik dan kepentingan-kepentingan lain diluar tugas keprajuritannya.
Karena itu Andragi memutuskan untuk menjawab dengan berani.
“Orang memanggil saya dengan julukan Mata Setan, karena saya bisa melihat dengan jelas di malam hari,” jawab Andragi.
“Oh, begitu! Itu urusanmu, nanti kita buktikan! Yang penting jawab ini: Benarkah kamu kepala perampok Gunung Kembar, yang telah menculik istri Adipati?”
“Saya akan mengakuinya di hadapan istri Adipati itu. Temukan dia dengan saya,” jawab Andragi dengan mantap.
“Hahahaha.. kau sungguh beruntung aku menangkapmu hari ini, hari pesta bunga, sehingga kau berani berkata seperi itu!” kata Setiaka.
Di negeri Kelapa Getir, menurut aturan yang ditetapkan oleh Bapak bangsa Kudabringas, pada hari-hari raya tidak boleh dilakukan penyiksaan kepada para tahanan. Pada hari-hari seperti itu semua orang memperoleh haknya untuk menghormati Sang Penciptanya tanpa boleh diganggu, tak terkecuali para tahanan.
 
“Karena aku tidak boleh menyiksamu di hari yang suci ini, aku mencoba menahan diri. Tetapi besok, aku berjanji kepada tanganku ini untuk menyiksamu dua kali lipat dari keputusan yang berlaku jika kau tidak mengaku sebagai kepala perampok Gunung Kembar. Ingat-ingat itu!” bentak Setiaka.


Andragi tidak menjawab. Dia hanya menatap lelaki itu.
“Prajurit! Masukkan orang ini ke penjara dan kunci dengan kuat. Pastikan dia tidak bisa kabur. Kalau sampai terjadi, leher kalian taruhannya!” perintah Setiaka kepada dua orang prajuritnya.
“Siap, komandan. Laksanakan!’ jawab prajurit serentak.
Andragi lalu diseret ke penjara markas itu. Mereka mendorongnya dengan kasar dan mengunci selnya yang gelap dan pengap. Tak ada apa-apa disana kecuali dipan kayu. Ia lalu merebahkan dirinya mencoba memikirkan apa yang akan menimpanya nanti.
Sementara itu, Setiaka segera kembali ke alun-alun untuk melaporkan hasil penangkapannya itu.
“Bagus!” jawab Adipati. “Besok pagi kita akan buka sidangnya dan segera memutuskan hukuman untuknya. Istriku akan bersaksi disana!”
“Terimakasih, pangeran. Dan setelah itu jangan lupa meminta hadiah dari pemerintah pusat atas jasamu menangkap perusuh negeri. Aku mau menambah koleksi perhiasanku,” kata istrinya.
Mereka tetap melanjutkan hari pesta bunga seperti biasanya. Hanya, ketika hari sudah menjelang sore, barulah diumumkan bahwa seorang kepala perampok Gunung Kembar telah berhasil ditangkap dan akan diadili esok pagi. Pengunjung lalu bubar dan pulang sambil ramai membicarakan penangkapan itu. Banyak dari mereka bertekad untuk melihat perampok itu di pengadilan esok hari.
Sementara itu, di pos mata-mata, Paldrino dan kawan-kawan sedang berunding dengan para perampok Gunung Kembar mencari cara membebaskan Andragi.
“Kita serang saja penjara itu dengan kekuatan penuh saat mereka lengah di malam hari. Gadaku ini sudah lama tidak diberi sesaji darah penjahat!” usul Gadamuk.
“Usulmu itu separuh benar. Tetapi disana ada Pasukan Negeri yang dipimpin oleh Setiaka. Saya kenal dia saat masih di Kotaraja, sebagai wakil komandan satuan pengawal istana. Dia seorang prajurit tulen yang memiliki ilmu beladiri dan ilmu perang yang cukup tinggi. Kita akan menggunakan cara itu tetapi dilengkapi dengan kelihaian mengelabui mereka. Hasilnya tentu lebih bagus,” kata Jotiwo.
“Benar, otak dan otot kita padukan. Hasilnya akan lebih memuaskan,” kata Paldrino.
“Sayang, ia ditangkap saat siang hari. Coba kalau malam, pasti ia akan mengeluarkan mata setannya,” keluh Gadamuk.
Gadamuk dan Jotiwo memang belum tahu rahasia kesaktian Anak Langit karena menggunakan peralatan ‘aneh’ yang dibawa dari dunianya. Tetapi, keluhan Gadamuk itu justru mengingatkan Paldrino pada tas pinggang yang dititipkan Anak Langit kepadanya. Ia lalu meminta diri berpura-pura untuk ke belakang sejenak dengan maksud melihat peralatan yang yang ada di dalam tas pinggang itu. Di kamar kecil itu ia membukanya dan melihat bermacam alat-alat yang tentu sangat asing baginya. Hanya satu yang ia ketahui, yakni senter genggam yang dilihatnya saat Andragi menyoroti mata Gadamuk maupun Jotiwo ketika diserang itu. Benda bulat panjang itu dimasukkan kembali ke dalam tas pinggang dan ia kembali menemui kawan-kawan berundingnya. Tak ada sedikitpun niatan untuk mencoba benda-benda itu karena ia sadar betul akan menimbulkan kekacauan sehingga bisa terbongkar rahasia kesaktian Anak Langit. Ia ingat betul pesan kakek Bulesak atas misi Anak Langit dan dirinya.
 “Ah, mungkin kita sebaiknya makan malam dulu sebelum meneruskan pembicaraan kita,” kata Jotiwo. “Sementara menunggu makanan dipersiapkan, silakan pak Wedana dan kawan-kawan bebersih diri dan meletakkan barang di kamar yang telah kami siapkan.”
Kebetulan, pikir Paldrino. Ia lalu mengajak Loyo berbagi kamar yang sama sementara Bedul Brewok menempati kamar lain bersama Jotiwo dan Gadamuk.




Pondok itu memang hanya memiliki dua kamar. Bedul Brewok merasa lega karena ia akan merasa sungkan sekamar dengan seorang Wedana. Tentu perasaan itu juga menghinggapi Loyo, tetapi karena Paldrino sendiri yang memintanya, ia tak bisa menolak.
Setiba di dalam kamar, Paldrino segera membuka tas pinggang itu dan menunjukkan kepada Loyo.
“Sobat Loyo, barang-barang ini kalau bisa sampai di tangan Anak Langit tentu akan sangat berguna baginya untuk membebaskan diri,” kata Paldrino.
“Maksud Pak Wedana bagaimana?”
“Begini, saya  tahu barang ini yang dipakai Anak Langit untuk membuat mata setan. Sedangkan yang lain saya tidak tahu untuk apa. Sepertinya barang yang untuk membuat api naga tidak ada disini,” kata Paldrino sambil menunjukkan isi tas pinggang itu.
“Iya, memang tidak ada yang untuk api naga. Hanya ada pembuat apinya saja, benda yang kecil itu,” kata Loyo sambil menunjuk korek api gas.
“Kalau begitu begini saja. Saya minta sobat Loyo membungkus pembuat mata setan ini rapat-rapat dan berusaha membawanya ke penjara untuk diberikan kepada Anak Langit. Caranya kesana kita rundingkan bersama teman-teman. Tetapi kepada teman-teman disini kita sebut saja ramuan ajaib Anak Langit. Biar Anak Langit sendiri yang membuka rahasianya bila saatnya tiba,” kata Aldrino.
Loyo segera membungkus senter itu dengan sehelai kain lalu mereka keluar menemui teman-teman mereka yang sudah menunggu untuk makan malam. Sambil makan itu Paldrino menceritakan rencananya.
“Kawan-kawan, saya usul agar sobat Loyo berusaha masuk ke penjara besok malam untuk membawa ramuan ajaib mata setan yang dititipkan kepada saya tadi,” kata Paldrino sambil menunjuk bungkusan kecil yang dipegang Loyo.
“Cuma, saya tidak tahu bagaimana cara masuk ke penjara itu yang tentunya dijaga ketat,” lanjutnya.
“Ah, kalau itu mudah, pak Wedana. Sebagai orang yang dulu sering berhubungan dengan orang-orang pemerintah saya tahu tabiat mereka. Kita bekali sobat Loyo dengan sejumlah uang untuk menyogok para penjaga dengan berpura-pura mengantar makanan. Kita sediakan pula makanan buat mereka tetapi sudah kita bubuhi obat tidur. Selanjutnya tinggal keluar saja,” kata Gadamuk.
“Iya, itu ide bagus. Tetapi kita harus juga memperhitungkan keberadaan Setiaka atau faktor-faktor lain yang tidak terduga. Bagaimana pendapat sobat Jotiwo?” tanya Paldrino.
“Kalau begitu kita harus menarik perhatian Setiaka ke tempat lain saat sobat Loyo dan tuan Mata Setan meloloskan diri dari penjara. Hmm.. saya kira saya tahu caranya,” kata Jotiwo.
Semua mata terarah kepadanya penuh harap.
“Begini, besok kita bagi rombongan kita menjadi tiga kelompok. Saya dengan lima puluh orang anak buah akan mengganggu Setiaka. Sobat Bedul Brewok dan Gadamuk akan memimpin seratus orang untuk menyerang Kadipaten dan membakar rumah Adipati itu. Dengan begitu konsentrasi Setiaka dan pasukannya akan terpecah dan dia akan memilih menyelamatkan Adipati daripada menjaga penjara. Saat itulah waktu yang paling baik bagi tuan Mata Setan meloloskan diri. Pak Wedana dengan beberapa anak buah saya akan menjemput dan mengawal tuan Mata Setan kesini.Setelah selesai menjalankan tugas masing-masing kita berkumpul disini dan kembali ke Gunung kembar,” jelas Jotiwo.
“Sungguh ide seorang ahli strategi perang yang jenius,” puji Paldrino.
“Dan, saya bisa memuaskan gada saya ini dengan darah perempuan sundal itu!” sambung Gadamuk bersemangat.
Mereka semua setuju. Malam itu juga rencana dan persiapan secara rinci dilakukan. Pasukan dari Gunung Kembar pun tiba sekitar pukul 02.00 dinihari dan segera beristirahat.

Mau ke Bali?
nginep
hanya $5/malam

(…….BERSAMBUNG……)

VIDEO INSPIRASIONAL
Sambil menanti lanjutan kisah ALDNP silakan cari inspirasi disini. Duduk santai, dan biarkan hati dan pikiran anda mengembara melintas batas yang selama ini mengungkung cakrawala anda.

Selamat Menikmati!
                                                                       
_________________________________________

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License





Rencana Membebaskan Anak Langit (aldnp 31)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60