Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Tuan Mata Setan Berhasil Lolos (aldnp 34)

Anak Langit Di Negeri Pelangi - ALDNP #34

“Hahaha.. Pedangmu sudah tumpul rupanya. Kapan terakhir kali kau asah?” ledek Jotiwo memecah konsentrasinya.

Setiaka menjawab dengan serangan yang lebih gencar, dan itu membuat pertahanannya agak terbuka. Celah itu digunakan Jotiwo untuk berkelit dan menyodokkan kerisnya secara menyamping. Dengan susah payah Setiaka mencoba menghindar. Tiada cara lain selain secepat kilat menarik pedangnya dan menangkis datangnya keris itu..

“Tranngg!!” terdengar benturan nyaring dari kedua senjata yang beradu.

Tangan Setiaka terasa kesemutan hingga hampir saja pedangnya terlepas. Sedangkan Jotiwo tampak tenang-tenang dan terlihat riang mengejeknya.

“Hahaa.. rupanya kau kemari lupa mematikan api di tungkumu. Lihatlah, dapurmu kini sudah terbakar,” ledek Jotiwo saat melihat di ujung sana langit memerah dan tampak asap membumbung hitam.

Dengan sudut matanya Setiaka menangkap sinar merah dari arah sekitar markasnya. Otaknya dengan cepat bekerja dan menyimpulkan itu bukan markasnya melainkan kediaman Adipati. Jiwa prajuritnya segera terpanggil untuk menyelamatkan pimpinan di wilayahnya itu. Dengan pikiran yang bercabang itu, ia kini menjadi semakin terdesak oleh serangan Jotiwo.

Tiba-tiba ia melakukan gerakan siap menyerang secara frontal dengan kemungkinan yang fatal,.. mati! Jotiwo segera bersiap menghadapi serangan pamungkas itu. Kesempatan itu digunakan oleh Setiaka untuk memutar kudanya dan memacu ke arah kebakaran sambil memerintahkan anak buahnya menyerang Jotiwo beramai-ramai.
“Serang dia! Saya akan menyelamatkan Adipati!” perintahnya sambil menggebrak kudanya.

Jotiwo pun tidak tinggal diam. Sambil melayani serbuan anak buah Setiaka, ia memberi aba-aba. Tiba-tiba bermunculan anak buah Gunung Kembar dari semak-semak dan menyerang prajurit Setiaka. Meski jumlah prajurit pemerintah lebih banyak dibanding para perampok Gunung kembar, namun dengan kesaktian Jotiwo yang hebat itu pasukan Gunung Kembar berada diatas angin. Satu-persatu para prajurit Setiaka bertumbangan, mati atau terluka parah. Yang mampu melarikan diri segera angkat kaki meninggalkan arena mencari selamat. Jotiwo melarang anak buahnya mengejar mereka, karena harus segera menuju ke kediaman Adipati untuk membantu Bedul Brewok dan Gadamuk.

Sebelum meninggalkan tempat itu, ia bersiul nyaring. Tak lama kemudian muncul Paldrino bersama dua puluh pengawal menghampirinya.

“Silakan pak Wedana menjemput tuan Mata Setan. Daerah ini sudah aman. Saya akan segera menuju rumah Adipati,” kata Jotiwo.

“Terimakasih saudara Jotiwo,” kata Paldrino.

Mereka segera bergerak menyusuri jalan itu menuju arah penjara.



Dari balik rumpun pohon pisang Loyo juga mendengar siulan itu. Itulah saatnya dia harus menemui pak Wedana dan rombongannya. Namun sebelum sempat beranjak, ia mendengar langkah kaki orang berlari tak beraturan berusaha mencapai rumpun pisang itu untuk bersembunyi. Loyo segera mengeluarkan mata setan dan menyorot ke arah orang itu, yang begitu terperanjat dan ketakutan setengah mati.

“Ibu..Seeeetttaan!” ia berteriak sambil berlari kearah lain lintang pukang.

Dalam hatinya, prajurit malang itu menyesali kenapa ia hanya memiliki sepasang kaki untuk berlari. Dilain pihak, Loyo tersenyum geli.

“Mari Anak Langit, kita berangkat,” katanya sambil menuntun kedua kuda.
Disalah satu punggung kuda itu menggelendot Andragi yang masih lemas dan kesakitan. Begitu memasuki jalan besar, Loyo segera bertemu dengan rombongan Paldrino.
“Bagaimana keadaan tuan Mata Setan?” tanya Paldrino.
“Masih lemah dan kesakitan, pak Wedana. Tetapi tidak berbahaya,” jawab Loyo.
“Syukurlah! Terimakasih sobat Loyo telah mengeluarkannya dari penjara,” kata Paldrino yang dijawab dengan anggukan hormat oleh Loyo.

Paldrino lalu meminta para pengawal membawa Andragi dengan tandu yang memang telah mereka persiapkan sebelum berangkat. Mereka sudah tahu nasib apa yang akan menimpanya. Mereka segera membalurkan ramuan di punggung, paha dan betis Andragi yang luka. Ia juga diberi minum ramuan berkhasiat. Mereka membaringkannya menelungkup di tandu itu lalu kemudian menyelimutinya dengan kain panjang..

“Tuan Mata Setan, sekarang beristirahatlah diatas tandu. Semuanya sudah aman sekarang,” kata Paldrino.
“Terimakasih Pak Paldrino dan kawan-kawan,” kata Andragi lemah dan tak lama kemudian tertidur.

Rupanya ramuan obat yang diminumnya mengandung obat tidur. Rombongan itu lalu bergegas meninggalkan kota Rajapurwa menuju pos mata-mata mereka di tepi hutan. Mereka tiba dengan aman disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60