Datang dalam Kepapaan Pergi dalam Kemuliaan


Kisah petualangan Anak Langit dalam menghimpun dan mempersatukan para pendekar kebenaran yang memiliki nilai-nilai Cinta – Kepemimpinan – Kerjasama – Integritas – Patriotisme - Kelimpahan Hati – Maturitas - Keluhuran Budi - dan Kepintaran, demi memerangi degradasi moral di negeri yang carut marut oleh keserakahan.

PLUS 500 PERIBAHASA

EPISODE #

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

Matinya Si Ular Biludak (35)

Anak Langit Di Negeri Pelangi - aldnp #35


Kita tinggalkan dulu Anak Langit di pos itu. Apa yang terjadi akibat ulah Gadamuk dan Bedul Brewok di rumah Adipati juga tidak kalah serunya. Saat Jotiwo memancing Setiaka untuk datang ke gerbang kota, Gadamuk dan bedul Brewok mengintai kediaman Adipati dari balik gerumbulan semak.
“Kita tunggu, apakah Jotiwo berhasil memancing Setiaka keluar dari sarangnya,” kata Gadamuk.
“Ssssst! Dengar, ada suara kuda mendekat,” bisik Bedul Brewok.

Beberapa saat kemudian tampak dua prajurit memacu kudanya memasuki markas mereka. Selang beberapa saat mereka keluar dan memacu kembali ke arah semula mereka datang.

“Wah, gimana nih, tampaknya Setiaka tidak berani keluar,” bisik Brewok bertanya-tanya.
“Tunggu dulu, mungkin dia sedang mencak-mencak marah di dalam sana. Saya tahu adat Jotiwo kalau membakar emosi marah orang lain,” jawab Gadamuk.

Benar dugaannya, tidak lama kemudian terdengar perintah Setiaka mengumpulkan para prajuritnya, yang dengan sigap segera memenuhi halaman markas itu. Setelah semuanya siap dan rapi berbaris, Setiaka memerintahkan mengikutinya menuju gerbang kota.

“Benar dugaan sobat Gadamuk. Markas mereka bahkan hampir kosong. Sekarang bisa kita habisi adipati dan seluruh keluarganya dengan mudah. heh..he!” kata Brewok.
“Ya..ya.Tetapi biar lebih mudah, kita pakai sedikit akal. Bagaimanapun, pintu gerbangnya itu dijaga ketat dan selalu tertutup. Di dalamnya ada banyak pengawal Adipati tentunya,” kata Gadamuk.

Ia lalu membisikkan rencananya. Brewok setuju. Mereka lalu menyebar lima puluh anak buahnya mengepung kediaman Adipati sedangkan sebagian besar bersiap menyerbu dari depan gerbang. Gadamuk dan Brewok dengan hati-hati keluar dari persembunyian mereka menuju jalan besar agak jauh dari gerbang rumah Adipati itu. Ia membawa keranjang berisi gada besarnya yang ditutupi selembar kain. Mereka lalu menuju gerbang itu dengan cara seperti tergopoh-gopoh, dan segera menghampiri empat prajurit yang menjaga disana.

“Penjaga, tolong bukakan gerbang. Kami berdua ingin bertemu Tuan Adipati. Ada hal penting yang akan kami sampaikan,” kata Gadamuk.
“He! Tunggu dulu! Siapa kalian! Ada perlu apa mau ketemu Adipati!?” tanya seorang penjaga yang lebih senior daripada ketiga rekannya.
“Kami bekas anak buah perampok Gunung Kembar, tapi kami diperlakukan tidak adil oleh Gadamuk, pimpinan perampok Gunung Kembar,” jawab Gadamuk.
Sementara itu Brewok menahan geli dengan sandiwara Gadamuk itu sambil mengusap brewoknya yang lebat, menutupi senyum gelinya.
“Karena itu diam-diam kami lalu mengambil harta Nyonya Adipati yang dirampok beberapa hari lalu untuk kami kembalikan. Kami ingin menjadi orang baik-baik,” kata Gadamuk, sambil menunjuk keranjangnya.
“Hmm. coba lihat harta itu!” perintah penjaga itu.
“Baik, tapi di dalam gerbang saja supaya tidak dilihat orang. Kami takut anak buah Gadamuk ada yang menguntit kami. Mereka sudah curiga gerak-gerik kami,”  kata Gadamuk.
Kali ini Brewok sudah tidak geli lagi, tapi berganti dengan waspada. Ia siap menghunus pedangnya bila situasi tidak sesuai rencana mereka.
“Iya, tapi tunggu dulu. Biar seorang dari kami melapor komandan kami dulu di dalam,” kata penjaga itu.

Ia lalu menyuruh seorang rekannya melapor ke dalam. Melihat gerbang telah dibuka Gadamuk tidak ingin lagi memperpanjang sandiwaranya.
“Ada baiknya saya tunjukkan sedikit  harta itu kepada saudara, biar saudara percaya,” kata Gadamuk sambil berhati-hati membuka kain penutup gada dalam keranjang itu.

Para penjaga itu mendekat sambil membungkuk ingin tahu.
“Nah, ini bendanya!” kata Gadamuk menyentak dan dengan tiba-tiba mengayunkan gadanya secara beruntun sekuat tenaga kearah dua orang penjaga yang tanpa sempat berteriak, remuk tengkorak kepala mereka. Pada saat yang bersamaan Brewok menyabetkan padangnya kepada penjaga ketiga, memutuskan lehernya.

Gadamuk lalu memberi aba-aba dengan isyarat kepada anak buahnya untuk merangsek  mandekati pintu gerbang. Dari dalam terdengar langkah kaki mendekat. Mereka tidak lain komandan penjaga dan yang melapor, sedang menuju ke arah gerbang itu. Tanpa curiga mereka melangkah keluar gerbang, dan disambut oleh sabetan golok serta hantaman gada. Keduanya tewas seketika.

“Kita harus menyerang secara serentak dan gaduh agar mereka terkejut dan panik. Petugas yang membakar segera langsung saja membakar benda-benda yang mudah terbakar,” kata Gadamuk kepada beberapa anak buahnya agar mereka meneruskan perintah itu kepada setiap orang secara diam-diam. Setelah memastikan semua mengerti perintahnya, ia lalu mengacungkan gadanya tinggi-tinggi.

“Serbuuuu!!!” teriaknya.



Serentak terdengar riuh rendah suara pasukan Gunung Kembar menerjang masuk. Para prajurit penjaga di dalam halaman rumah Adipati terkejut dan tak bisa berbuat banyak menghadapi kelombang serangan mendadak dan riuh itu. Dengan mudah mereka diserang hingga tewas. Gadamuk dan Brewok menyerbu masuk ke dalam rumah diikuti pasukannya dan dengan beringas memporak-porandakan benda-benda yang ada disana. Gadamuk yang begitu geram terhadap istri Adipati langsung menuju ruang keluarga dan meminta Brewok menyerbu ruang kerja Adipati.

Sementara itu para petugas pembakar sudah menyulut api dan membakar berbagai benda di beberapa bagian rumah itu. Para pembantu Adipati berlarian histeris menyelamatkan diri, tetapi sia-sia. Tanpa ampun mereka dihabisi oleh pasukan Gunung Kembar.

Gadamuk yang masuk ke ruang keluarga mendapati istri Adipati dan istri pejabat dari pusat meringkuk ketakutan bersama dayang-dayangnya. Anak-anak mereka telah ia sembunyikan di ruang penyimpanan harta benda nereka. Ia menghiba-hiba minta dikasihani, agar jangan dibunuh.

“Tolong tuan, jangan bunuh saya. Saya bersedia jadi istri tuan dan akan menunjukkan semua harta Adipati untuk tuan. Tolong Jangan bunuh saya!” katanya gemetar ketakutan.
“Perempuan sundal berlidah ular! Sudah ditolong malah menggigit! Rasakan ini sebagai balasannya!” bentak Gadamuk sambil mengayunkan gada mautnya. Tak ayal, tubuh-tubuh gemulai itu berantakan hancur diterjang gada Gadamuk yang haus darah.

“Periksa semua ruangan dan habisi yang masih hidup!” perintah Gadamuk kepada anak buahnya.

Mereka segera membongkar paksa pintu-pintu yang terkunci dan menemukan ruang harta yang berlimpah uang emas dan benda-benda berharga. Empat orang anak Adipati yang meringkuk disana tanpa ampun dibunuh habis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar agar Lebih Seru Ceritanya.

Kalau Anda Merasa Terhibur oleh Kisah ALDNP, silakan beri sumbangan di bawah ini. Terimakasih.

Nomor Artikel aldnp

01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60